Minggu, 21 Agustus 2011

Penelitian Kausal dan Korelasi


Hati-hati dengan judul penelitian yang menggunakan kata “PENGARUH, EFEK, DAMPAK  X TERHADAP Y”

Hasan Mustafa

Judul penelitian ilmiah umumnya mencerminkan isi dan tujuan utama penelitian itu sendiri, bahkan bisa juga menunjukan kira-kira metode penelitannya. Ketika kita membaca laporan penelitian yang berjudul : “Hubungan antara X dan Y”, predikisi kita tentang isi dan metode penelitian akan berbeda dengan laporan penelitian yang berjudul “Pengaruh X terhadap Y. Setelah kita pelajari isi laporan penelitian tersebut, kita bisa menilai apakah  judul penelitian tersebut sudah tepat atau tidak. 

Tulisan pendek ini bertujuan untuk memberikan sedikit informasi yang berkaitan dengan judul penelitian yang menggunakan kata “pengaruh”, “dampak”, atau “efek”, padahal isi laporannya ternyata tidak menganalisis pengaruh, dampak atau efek sesuatu variabel terhadap variabel lain, melainkan lebih ke arah analisis hubungan atau korelasi.
Bagi pembaca (pembimbing, penguji, pembahas) yang kurang kritis, hal tersebut tidak akan memunculkan masalah bagi penelitinya, karena mereka dapat menerima pemikiran analisis kausal (pengaruh, dampak, efek) dipersamakan dengan analisis korelasional (hubungan).  Namun bagi yang kritis masalah akan muncul. 

Korelasi tidak sama dengan kausal

"Correlation does not imply causation" is a phrase used in science and statistics to emphasize that correlation between two variables does not automatically imply that one causes the other (though it does not remove the fact that correlation can still be a hint, whether powerful or otherwise[1][2]).  Intinya, ketika satu variabel berkorelasi dengan variabel lainnya, tidak sertamerta bahwa di dalamnya ada hubungan kausalitas, walau hubungannya sangat kuat atau sebaliknya.
The phrase's opposite, correlation proves causation, is a logical fallacy by which two events that occur together are claimed to have a cause-and-effect relationship. The fallacy is also known as cum hoc ergo propter hoc (Latin for "with this, therefore because of this") and false cause. By contrast, the fallacy post hoc ergo propter hoc (after this, therefore because of this) requires that one event occur before the other and so may be considered a type of cum hoc (fallacy)   (Wikipedia, the free encyclopedia).

Jika  antara dua variabel terjadi korelasi, kemudian selalu diartikan sebagai bukti adanya hubungan kausalitas, maka sudah terjadi kesalahan logika. Benar, dalam suatu kausalitas selalu ada korelasi, namun dalam korelasi tidak selalu terjadi kausalitas.

Rumus Statistik
Tidak jarang peneliti "menyalahgunakan" (biasanya tanpa disadari) rumus statistik guna menyatakan ada tidaknya pengaruh antara satu variabel terhadap variabel lainnya. Rumus statistik yang kerap digunakan untuk menjastifikasi adanya pengaruh variabel satu dengan variabel lainnya antara lain adalah regresi. Memang benar, salah satu fungsi dari rumus tersebut adalah menghitung besar/kecilnya-nya pengaruh (dan juga bisa mengetahui besar/kecil-nya hubungan), tetapi bukan menentukan ada tidaknya pengaruh.  Ada tidaknya pengaruh satu variabel terhadap variabel lain  tidak ditentukan oleh rumus regresi, namun oleh metode penelitiannya.

Misalnya, judul penelitiannya “Pengaruh merokok terhadap kanker”. Untuk mengujinya peneliti mengambil sejumlah sampel. Dari sejumlah sampel tersebut (pasien yang menderita kanker), diukur frekuensi merokok (x-independent variable) dan diukur berat-ringannya kanker (y-dependent variable). Setelah itu nilai x dihubungkan dengan nilai y, dengan menggunakan rumus regresi. Hasilnya lalu diinterpretasikan bahwa x berpengaruh/tidak berpengaruh terhadap y. Atau pasien menderika kanker disebabkan/tidak disebabkan karena mereka merokok, atau rokok sebagai penyebab/bukan penyebab kanker.  Satu kesimpulan yang mengandung kekeliruan logika “cum hoc ergo propter hoc”, mengapa? Karena esensi metode penelitiannya adalah korelasional, yaitu dengan cara menemukan data x (frekuensi merokok) dan data y (kanker), lalu data x dan data y dihubungkan dan dicari besarannya melalui rumus regresi. Menghubungkan nilai dua variabel yang berbeda, bukan mencari apakah ada pengaruh, dampak, efek merokok terhadap kanker.

Jika peneliti benar-benar ingin mengetahui apakah merokok menyebabkan kanker dan menentukan judul :”Pengaruh merokok terhadap kanker” maka metode penelitiannya harus eksperimental, bukan korelasional. Dicari sekelompok sukarela (responden) yang benar-benar tidak menderita kanker (sampel penelitian), lalu dikarantina, (agar mereka tidak mengonsumsi makanan lain yang bisa mengakibatkan kanker) kemudian dalam waktu tertentu diwajibkan kepada mereka untuk merokok. Setelah itu diperiksa kankernya.  Jika peneliti ingin menggunakan rumus regresi maka data x adalah kanker setiap responden sebelum merokok dan data y adalah kanker setiap responden setelah merokok. Jadi data x dan y adalah data variabel  yang sama (kanker) dari orang (responden) yang sama pula. Pretest – Treatment – Posttest.  Hasil perhitungan akan menunjukan berapa besaran pengaruh merokok terhadap kanker. Bisa kecil sekali sampai besar sekali, atau dari yang tidak signifikan sampai dengan signifikan. 

Sangat berbeda dalam metode penelitian ketika yang ingin diketahui adalah “adakah hubungan antara kebiasaan merokok dengan kanker?”. Untuk memperoleh ada tidaknya hubungan di antara dua variabel tersebut, peneliti harus mempunyai data variabel kebiasaan merokok – misalnya diukur dari jumlah rokok yang dihisap -  dan data derajat keparahan penyakit kanker dari responden yang mempunyai kebiasaan merokok tadi. Kemudian kedua data tersebut dihubungkan dengan menggunakan rumus statistika tertentu. Ketika hasilnya ternyata menunjukan adanya hubungan yang signifikan (makin banyak rokok yang dihisap makin tinggi derajat keparahan kankernya) maka tetap tidak dapat dikatakan bahwa derajat keparahan kanker disebabkan karena kebiasaan merokok, walaupun mungkin masuk akal. Oleh karena itu judul penelitiannya seharusnya “Hubungan Antara Kebiasaan Merokok Dengan Kanker”, bukan “Pengaruh Merokok Terhadap Kanker”

Kesimpulan
Tidak ada larangan memberikan judul “Pengaruh X terhadap Y”, namun perlu dipertimbangkan konsekuensi dari judul tersebut dalam metode penelitiannya. Hanya penelitian eksperimentalah yang layak diaplikasikan jika ada keinginan untuk mengetahui apakah nilai satu variabel menyebabkan atau berpengaruh/berdampak terhadap nilai variabel lain. Jika ternyata metode penelitiannya bukan eksperimental melainkan korelasional maka seharusna judul penelitian diganti menjadi “Hubungan antara X dengan Y”.

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Correlation_does_not_imply_causation


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar