Senin, 31 Agustus 2009

MOTIVATION EXERCISE

MotivationExercisebyMaslowPublish.pdf


http://www.ziddu.com/download/6270990/MotivationExercisebyMaslowPublish.pdf.htm

Kamis, 27 Agustus 2009

EFEK PYGMALION DI TEMPAT KERJA




EFEK PYGMALION DI TEMPAT KERJA


Hasan Mustafa


Efek atau pengaruh Pygmalion merupakan bahasan yang bisa diaplikasikan di sembarang kehidupan. Untuk kehidupan diri kita sendiri, kehidupan di keluarga, kehidupan di sekolah, atau juga kehidupan di tempat kerja. Inti bahasan ini adalah mengacu pada fenomena bahwa semakin tinggi kita meletakan harapan pada seseorang (anak, siswa, mahasiswa, pegawai) semakin baik kinerjanya. Misalnya, ketika seorang manajer mengatakan berulang-ulang kepada seorang bawahanya bahwa dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik sekali, maka kinerja bawahannya tersebut akan lebih baik. Atau ketika seorang ayah meyakinkan anaknya yang berusia 6 tahun bahwa dia pasti bisa pergi ke Surabaya dari Jakarta naik pesawat sendirian, maka hasilnya sang anak akan bisa melakukannya.


Oh ya, Pygmalion adalah seorang pemahat dan pengukir patung dalam ceritera yang ditulis oleh Ovid di mitologi Yunani. Suatu ketika, dalam ceritera tersebut, Pygmalion berhasil membuat patung wanita. Patung wanita tersebut sangat cantik dan karena begitu cantiknya, Pygmalion jatuh cinta kepada patungnya tersebut. Dia namakan patungnya Galatea. Sangking cintanya kepada Galatea, Pygmalion memohon kepada dewa Aphrodite untuk memberikan nafas ke dalam patungnya tersebut. Karena begitu besar keinginan atau harapan Pygmalion, akhirnya dewa Aphrodite mengabulkan harapannya. Galatea bernafas, menjadi manusia. Kemudian Pygmalion mengawininya dan mereka hidup dengan bahagia.


Efek Pygmalion dalam sosiologi dikategorikan sebagai satu bentuk dari self-fulfilling prophecy. Robert K. Merton mengembangkan konsep self-fulfilling prophecy dari prinsip yang dikemukakan oleh W.I. Thomas (1928) yang berbunyi, "If men define situations as real, they are real in their consequences." (dikenal dengan nama Thomas theorem) – Menurut Thomas, manusia mereaksi suatu situasi tidak sekedar hanya seperti situasi itu sendiri, melainkan seringkali merupakan persepsi dirinya terhadap situasi tersebut. Oleh karena itu, perilakunya ditetapkan sebagiannya oleh persepsi dan pemberian makna atas situasi, bukan situasi itu sendiri. Begitu, orang meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu situasi atas benar-benar mempunyai makna tertentu, terlepas apakah makna tersebut benar-benar ada dalam situasi tersebut, maka orang tersebut akan bertindak sesuai dengan keyakinannya.


Untuk menguji apakah efek Pygmalion tersebut memang bisa terjadi dalam realitas sosial, dua orang peneliti yaitu Rosenthal dan Jacobson melakukan penelitian dengan rancangan eksperimen. Penelitiannya tentang efek (pengaruh) harapan guru terhadap kinerja murid dilakukan selama enam, bulan. Di awal tahun, kepada murid-murid baru yang dijadikan sampel percobaannya ditanamkan keyakinan oleh guru mereka bahwa mereka akan mempunyai prestasi akademik yang istimewa. Sampel diambil secara acak dari 18 kelas. Di akhir tahun, prestasi studi murid eksperimen tersebut dibandingkan dengan murid-murid lain yang tidak dijadikan kelompok eksperimen. Hasilnya, terdapat perbedaan yang signifikan. Kelompok murid eksperimen lebih baik dari yang bukan. (Rosenthal, Jacobson, 1966).


Ada artikel yang cukup menarik yang ditulis oleh Susan M. Heathfield dalam About.com. Human Resources, judulnya adalah: “THE TWO MOST IMPORTANT MANAGEMENT SECRETS: THE PYGMALION AND GALATEA EFFECTS” – The Pygmalion Effect: The Power of Supervisor’s Expectations dan The Galatea Effect: The Power of Self-expectations.


Harapan Anda terhadap bawahan dan harapan mereka terhadap dirinya sendiri merupakan faktor kunci untuk membuat bawahan berkinerja baik. Efek Pygmalion dan Galatea tidak bisa disepelekan. Dua hal tersebut merupakan prinsip dasar yang bisa Anda terapkan guna perbaikan kinerja di tempat kerja.

Untuk efek Pygmalion disimpulkan sebagai berikut:

-Setiap penyelia (atasan/supervisor) mempunyai harapan atas kinerja bawahannya.

-Secara disadari atau tidak penyelia mengkomunikasikan harapan-harapan tersebut kepada bawahan nya

-Bawahan secara sadar atau tidak, menangkap pesan yang disampaikan penyekianya tersebut.

-Bawahan berkinerja dengan cara yang konsisten dengan harapan yang berhasil ditangkap dari penyelianya.


Selanjutnya Susan mengutip tulisan dari J. Sterling Livingston dalam Harvard Business Review 1988 – Pygmalion in Management. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana kinerja yang menjadi lebih baik jika para penyelia mengkomunikasikan pikiran positif terhadap anak buahnya? Jika penyelia benar-benar percaya bahwa setiap anak buahnya mempunyai kemampuan untuk memberikan kontribusi positif di tempat kerjanya, disadari atau tidak, akan berpengaruh positif terhadap kinerja pegawainya. Dan, pengaruh penyelia bahkan bisa lebih baik daripada itu. Ketika penyelia memiliki harapan yang positif terhadap anak buahnya, dia membantu mereka memperbaiki “self-concept” – konsep diri, dan sekaligus juga “self-esteem” – harga diri.


Sumber bacaan :


http://humanresource,about.com/


http://ezinearti.com/


http://en.wikipedia.org/






Senin, 24 Agustus 2009

SELINTAS TENTANG MSDM

PENGANTAR MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA
Hasan Mustafa
Dalam masyarakat informasi, sumberdaya manusia merupakan ujung tombak. Hal tersebut mengandung makna bahwa keberadaan para akhli dalam bidang sumberdaya manusia makin menjadi sangat penting bagi organisasi. (John Naisbit). 1)

Dalam buku yang berjudul “Vision of Industry in the Eighties” dinyatakan bahwa “Organization are the most inventive social arrangements of our age and of civilization. It is a marvel to know that tens of thousands of people with highly individualized backgrounds, skill, and interests are coordinated in various enterprises to pursue common institutionalized goal” 2). Memang benar, melalui organisasi berbagai macam jenis manusia dengan berbagai macam minat berbagai macam nilai, bisa bersatu padu, bekerjasama untuk mencapai satu tujuan. Oleh karena itu tidak berlebihan ketika sebuah industri batere internasional “Union Carbide” menuliskan satu slogan : “Assets make things possible, people make things happen” . 3)
Makna dari apa-apa yang ditulis oleh banyak orang tentang peran manusia di dalam organisasi menjadi sangat jelas, manusia merupakan salah satu faktor produksi yang seyogianya memperoleh perhatian utama dibandingkan dengan faktor produksi lainnya, yaitu aset (gedung, mesin, uang, bahan, dlsb), karena tanpa adanya manusia, aset tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Uang tetap akan berupa uang, mesin tetap tidak akan bisa beroperasi, bahan baku tidak akan berubah menjadi bahan jadi. Semuanya tetap tidak berubah; manusialah yang mengubahnya.Tantangan organisasi.

1.Produktivitas
Organisasi didirikan karena tidak sedikit kebutuhan manusia yang tidak mungkin diupayakan dengan baik oleh perorangan, melainkan harus dilakukan secara bersama. Melalui organisasi, maka kebutuhan manusia bisa disediakan dalam jumlah banyak sehingga biaya, tenaga dan waktu yang digunakan untuk menciptakan kebutuhan itu pun dapat ditekan. Esensi organisasi yang baik adalah penerapan konsep efektivitas dan efisiensi. Efektivitas berkaitan dengan produk atau jasa yang dihasilkan, sedangkan efisiensi berkaitan dengan tenaga, uang, waktu, bahan, dan lain sebagainya, yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang dan jasa. Makin efektif dan efisien kerja suatu organisasi, - secara ekonomi - semakin baik organisasi tersebut, . Dalam ilmu ekonomi hal tersebut tadi dikenal dengan istilah produktivitas, yaitu perbandingan antara barang atau jasa yang dihasilkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang dan jasa tadi. Produktivitas suatu organisasi semakin baik jika nilai jumlah barang dan jasa yang dihasilkan melebihi nilai biaya atau pengeluarannya. Inilah tantangan utama yang dihadapi organisasi.

Dalam dunia atau lingkungan bisnis, penyempurnaan tingkat produktivitas merupakan hal utama dan sangat penting guna keberhasilan jangka panjang. Dengan tercapainya produktivitas, manajer dapat mengurangi biaya, menghemat sumber-sumber yang langka, dan hasilnya adalah meningkatnya keuntungan. Seterusnya, dengan meningkatnya keuntungan memungkinkan organisasi memberikan gaji atau upah, tunjangan, dan kondisi kerja lebih baik kepada para pegawainya dan hal ini akan berimbas pada meningkatnya kualitas kehidupan kerja sehingga pegawai makin termotivasi untuk meningkatkan produktivitas. Dalam hal ini, Harlod C. White (1981) menulis : “Human resource departments contribute to improved productivity directly by finding better and more efficient ways to meet their objectives and indirectly by improving the quality of work life for employees” 4)

2.Kualitas kehidupan kerja
Seperti dikemukakan oleh Harlod C. White di atas, secara tidak langsung peningkatan kualitas kehidupan kerja merupakan satu variabel yang tidak kalah penting dengan peningkatan upaya yang efektif dan efisien dalam peningkatan produktivitas. Secara internasional kualitas kehidupan kerja dikenal dengan singkatan QWL (Quality of Work Life) yang maknanya “have good supervision, good working conditions, good pay and benefits, and an interesting, challenging, and rewarding job” (Werther and Davis, 1996). 5). Supervisi atau sistem pengawasan yang tepat, atasan yang berkualitas; kondisi atau lingkungan kerja yang baik, sehat, aman, terbuka; upah dan gaji serta kompensasi lainnya yang memadai; pekerjaan yang menarik, menantang, tepat bagi pegawai yang bersangkutan, kesemuanya tadi membentuk lingkungan kerja yang berkualitas dan pada akhirnya bisa memunculkan kepuasan kerja yang optimal dalam diri pegawai, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap motivasi kerja mereka.Dengan motivasi kerja yang tinggi disertai oleh kemampuan kerja yang memadai akan membuat pegawai atau pekerja berkinerja baik.

Keseimbangan
Perlu dipahami bahwa merespons kedua tantangan tersebut secara sekaligus bukan pekerjaan yang mudah. Terlalu berlebihan fokus pada produktivitas (biasanya biaya produksi ditekan) akan berakibat kurang baik bagi terciptanya kehidupan kerja yang berkualitas. Demikian pula terlampau menekankan terciptanya kehidup[an kerja yang berkualitas (biasanya biaya meningkat), produktivitas juga akan terganggu. Saling tarik ulur di antara kedua kepentingan tersebut perlu dilakukan sehingga tercipta keseimbangan yang menguntungkan.
Produktivitas dan kualitas kehidupan kerja yang baik, di samping merupakan tantangan yang harus ditanggapi secara serius oleh organisasi, juga sekaligus merupakan sasaran atau tujuan yang seyogianya dicapai oleh sumberdaya manusia dalam organisasi. Agar tujuan tersebut dapat dicapai, organisasi dituntut membangun satu bagian khusus yang mengelola sumberdaya manusia. Bagian ini dinamakan bagian atau departemen sumberdaya manusia, atau juga dikenal dengan nama bagian kepegawaian. Semua yang dilakukan oleh bagian ini terintegrasikan ke dalam satu proses yang bernama Manajemen Sumberdaya Manusia.

Manajemen Sumberdaya Manusia
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sasaran akhir yang harus dicapai oleh manajemen sumberdaya manusia suatu organisasi adalah pegawai yang memiliki produktitas kerja yang memadai dan sekaligus juga merasa senang atau puas bekerja. Agar tujuan tersebut tercapai maka ada beberapa aktivitas manajemen sumberdaya manusia yang harus dilakukan. Beberapa aktivitas yang umumnya dilakukan dalam manajemen sumberdaya manusia antara lain adalah perencanaan sumberdaya manusia, analisis jabatan, perekrutan, seleksi, penempatan, pelatihan dan pengembangan, penyusunan rancangan jabatan, evaluasi kinerja pegawai, pemberian kompensasi dan tunjangan, pendisiplinan pegawai, pengembangan karier pegawai, program kesehatan dan keselamatan kerja, program hubungan industrial, serta audit sumberdaya manusia.
Dari tujuan serta aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh manajemen sumberdaya manusia, maka manajemen sumberdaya manusia bisa didefinisikan sebagai “kegiatan-kegiatan yang dirancang dan dilakukan secara sistematis oleh organisasi dengan tujuan terciptanya sumberdaya manusia yang produktif dan memiliki kepuasan dalam bekerja”.

Model Manajemen Sumberdaya Manusia
Berdasarkan definisi yang telah diuraikan, mananjemen sumberdaya manusia dapat digambarkan dalam sebuah model. Model adalah satu bentuk ringkas (gambar, rumus, bagan, dlsb) yang mampu mencerminkan suatu konsep atau realitas tertentu.
Dalam model yang disusun oleh De Cenzo dan Robbins di buku Human Resource Management maka keseluruhan kegiatan manajemen sumberdata manusia dikelompokan ke dalam tiga kelompok yaitu kelompok Inception (awal), Development (pengembangan), Motivation (motivasi), dan Manitenance (pemeliharaan) .

1.Inception
Jika diterjemahkan, kata “inception” bermakna awal dari suatu kegiatan. Dalam kelompok ini terdapat tiga kegiatan yaitu Perencanaan Sumberdaya Manusia, Penarikan dan Seleksi Calon Pegawai, dan Orientasi Pegawai Baru. Berdasarkan literatur manajemen sumberdaya manusia lainnya, kegiatan dalam kelompok tersebut perlu ditambahkan satu, yaitu Penempatan Pegawai Baru.

a.Perencanaan Sumberdaya Manusia
Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh data tentang tenaga kerja atau sumberdaya manusia di masa datang berdasarkan data yang sekarang ada dalam organisasi. Data sumberdaya manusia tersebut mencakup kuantitas dan kualitas SDM. Langkah pertama yang dilakukan adalam mengaudit SDM yang ada dalam organisasi guna memperoleh data persediaan (labor supply) tenaga kerja. Berdasarkan tujuan bisnis yang disusun oleh perusahaan, departemen SDM menyusun rencana kebutuhan SDM masa depan (biasanya satu tahun mendatang). Data ini dinamakan data permintaan akan tenaga kerja (labor demand) SDM . Data labor supply dan labor demand dicocokan, hasilnya bisa kelebihan tenaga kerja (supply lebih besar dibandingkan demand) atau kekurangan tenaga kerja (supply lebih kecil dibandingkan demand). Berdasarkan hasil perbandingan tersebut disusun rencana strategis untuk memperoleh pegawai baru. Kalau kelebihan, maka tenaga kerja yang ada perlu dikurangi melalui program PHK (pemutusan hubungan kerja) , dan kalau kekurangan maka perlu dicari tenaga kerja baru melalui program penarikan pegawai baru (rekrutmen).

b.Penarikan calon pegawai (rekrutmen)
Ketika perusahaan atau organisasi mengalami kekurangan tenaga kerja maka kegiatan awal adalah berupaya menarik calon tenaga kerja yang berasal dari dalam organisasi atau dari luar organisasi. Dari dalam organisasi, artinya mengisi jabatan yang kosong di bagian tertentu dengan pegawai dari bagian lain yang jumlah pegawainya berlebihan. Ketika pegisian jabatan yang kosong tidak bisa didapat dari dalam perusahaan, maka dilakukan upaya mencari dari luar organisasi/perusahaan. Memasang iklan di surat kabar, di sekolah/kampus, melalui internet, dan cara-cara lainnya merupakan hal yang biasa dilakukan. Cara perekrutan harus dilakukan dengan seksama agar calon pegawai yang melamar sesuai dengan tuntutan jabatan yang belum terisi. Hasil dari proses rekrutmen adalah sekelompok calon tenaga kerja yang siap untuk diseleksi.

c.Seleksi calon pegawai.
Ketika jumlah pelamar melampaui jumlah jabatan yang belum terisi dan juga kualitas calon pegawai belum diketahui maka kegiatan berikutnya adalah menyeleksinya. Proses ini bertujuan untuk memutuskan calon pegawai yang diterima menjadi pegawai dan juga memutuskan calon pegawai yang ditolak menjadi pegawai. Proses seleksi umumnya berkaitan dengan menyeleksi surat-surat lamaran yang masuk, kemudian melakukan tes atau ujian calon pegawai – tes kemampuan, keterampilan, pengetahuan, kepribadian (psikotes) -, wawancara, dan tes kesehatan. Agar hasil tesnya baik, alat-alat tes harus diukur tingkat validitas dan realibilitasnya. Walau tahapan seleksi banyak, namun tidak semua jabatan harus melalui tahapan yang sama. Untuk jabatan-jabatan tertentu mungkin calon pegwai hanya diuji keterampilan dan wawancara saja, sedangkan jabatan lain, proses seleksinya relatif lengkap.

d.Orientasi dan sosialisasi
Setelah diputuskan siapa-siapa saja dari calon pegawai yang diterima menjadi pegawai atau tenaga kerja perusahaan, maka mereka diberikan program orientasi dan sosialisasi. Tujuan program ini adalah mempercepat proses pengenalan pegawai baru pada tugas-tugasnya, pegawai lama, atasannya, peraturan organisasi, fasilitas fisik organisasi, dan lain-lainnya. Di samping itu, mereka mulai diberi kesempatan untuk menyesuaikan norma-norma, nilai-nilai yang dimilikinya dengan norma-norma serta nilai-nilai organisasi. Proses ini dinamakan proses sosialisasi. Diharapkan setelah pegawai baru melampaui tahapan ini dengan baik, maka dia bisa segera bekerja tanpa banyak kecanggungan-kecanggungan lagi sehingga kinerjanya sesuai dengan harapan organisasi.

e.Penempatan awal
Tujuan penempatan awal adalah ingin mengetahui kemampuan pegawai diawal mereka bekerja. Masa ini sering dijadikan sebagai masa percobaan, artinya jika ternyata di masa ini pegawai baru tidak bisa menunjukan kinerja yang diharapkan, organisasi bisa melakukan permutusan hubungan kerja. Idealnya, penempatan awal pegawai sesuai dengan rencana, yaitu jabatan-jabatan yang belum terisi, segera bisa terisi. Namun adakalanya penempatan awal pegawai baru tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan pegawai dan juga harapan organisasi. Hal ini bisa terjadi karena berdasarkan hasil tes atau ujian seleksi ternyata ada calon pegawai yang tadinya bermaksud melamar untuk pekerjaan atau jabatan X, lebih cocok jika ditempatkan di jabatan Y. Tahap ini harus dilakukan dengan seksama. Salah penempatan awal akan berakibat pada kinerja pegawai baru, yang imbasnya juga dirasakan oleh organisasi.

2.Development
Sasaran utama dalam tahap ini adalah mengembangkan kemampuan pegawai, baik secara individual maupun secara kelompok dengan harapan agar kinerja atau produktivitas pegawai menjadi lebih baik dari sebelumnya.

a.Pelatihan
Tujuan pelatihan adalah meningkatkan dimensi KASO’Cs dalam diri pegawai. KASO’Cs adalah singkatan dari Knowledge, Ability, Skill and Other Characteristics (Sikap, Motivasi – umumnya “soft skill”). Secara khusus, jika istilah pelatihan dibedakan dengan pengembangan maka tujuan pelatihan adalah meningkatkan KASO'Cs pada jabatan yang sekarang dipegang pegawai. Misalnya, kepada seorang salesman diberikan pelatihan tentang “product knowledge”, “cara membujuk calon pembeli”, “komunikasi penjualan yang efektif”. Artinya materi yang diberikan dalam pelatihan berkaitan langsung dengan tugas-tugas dia sebagai salesman. Proses penyelenggaraan pelatihan umumnya mencakup : analisis kebutuhan pelatihan, penetapkan tujuan pelatihan, penetapan isi dan metode pelatihan, pelaksanaan pelatihan, dan terakhir adalah evaluasi hasil pelatihan. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip pembelajaran juga merupakan hal yang perlu dikuasai oleh perancang pelatihan. Pelatihan bisa dilakukan sendiri organisasi atau organisasi lain (training provider) namun khusus hanya bagi pegawainya, istilah yang umum dikenal adalah “in-house training”. Organisasi bisa juga mengikut sertakan pegawainya dalam pelatihan yang sifatnya terbuka untuk umum, setelah sebelumnya mencocokan materi pelatihan dengan kebutuhan pegawai dan organisasi.

b.Pengembangan
Pada dasarnya tidak berbeda dengan pelatihan. Namun yang dikembangkan bukan KASO’Cs yang ada dalam jabatan sekarang, tetapi yang ada dalam jabatan pegawai di masa datang. Misalnya, dalam kasus salesman di atas, dia diminta mengikuti program pengembangan yang materinya tentang penyusunan strategi pemasaran, kepemimpinan, supervisory training padahal sesungguhnya materi-materi pengembangan tersebut tidak relevan dengan jabatannya sebagai salesman, namun karena dia diproyeksikan untuk menduduki jabatan sales manager maka materi tadi menjadi relevan. Program pengembangan umumnya ditujukan pada pegawai yang telah lama bekerja dan akan dipindahkan atau dipromosikan ke jabatan lain.

c.Pengembangan karier
Program ini dimaksudkan agar pegawai mempunyai karier yang berarti selama dia bekerja dalam organisasi. Pengembangan karier tidak hanya berarti bagi pegawai yang bersangkutan, tetapi juga bagi organisasi yang berpikir jangka panjang bagi kelangsungan hidup organisasinya. Artinya ketika organisasi membutuhkan tenaga kerja untuk mengisi jabatan-jabatan tingkat manajerial di waktu mendatang, tidak mengalami kesulitan karena terdapat cukup pegawai yang sewaktu-waktu bisa mengisinya jika diperlukan. Program ini dimulai dengan kegiatan yang dinamakan Perencanaan Karier. Pegawai diminta menentukan tujuan karier masa depan mereka (jabatan masa depan yang ingin diraihnya), lalu langkah-langkah apa saja yang akan dilakukannya untuk bisa meraih tujuannya tadi.
Penetapan career goal, career paths, career development, merupakan hal-hal yang tidak hanya dipikirkan dan dituliskan oleh pegawai, tetapi juga diketahui, diarsipkan serta didukung oleh organisasi.

3.Motivation
Kelompok ke tiga dari model manajemen sumberdaya manusia adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh organisasi untuk memotivasi atau mendorong pegawainya bekerja lebih baik lagi dengan cara memberikan kompensasi atau imbalan dan penerapan disiplin. Di kelompok ke tiga inilah, tujuan manajemen sumberdaya manusia yang kedua ( penciptaan kualitas kehidupan kerja –QWL-) diaplikasikan secara langsung.

a.TQM dan produktivitas.
Total Quality Management merupakan program yang sangat bergema kumandangnya ( di Amerika Serikat) di tahun 1990 an. TQM merupakan proses penyempurnaan yang dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan agar tercipta fondasi atau landasan yang kokoh untuk memberikan pelayanan lebih baik lagi kepada para pelanggannya. Melalui “continuous improvement” perusahaan berupaya sekeras mungkin memperbaiki segala hal yang mereka lakukan, mulai dari mencari pegawai yang berkualitas, ke proses administrasi, sampai dengan memenuhi kebutuhan pelanggannya. Kesemuanya itu ada dalam TQM.
TQM dewasa ini makin terasa makna pentingnya, khususnya ketika gema globalisasi dikumandangkan. Kini perusahaan tidak hanya bersaing dengan perusahaan lain di dalam negeri, melainkan dengan perusahaan lain di seluruh dunia.

b.Evaluasi Kinerja
Kinerja pegawai merupakan titik sentral organisasi karena inilah titik awal dari terciptanya produktivitas. Kinerja perlu dievaluasi, demi penyempur-naan kinerja itu sendiri dan juga untuk kegunaan lain, seperti penetapan kompensasi, penempatan ulang (promosi, demosi, transfer), pelatihan atau pengembangan, perancangan jabatan dan lain serbagainya. Melalui hasil penilaian kinerja, organisasi dapat mengetahui apakah proses kerja yang selama ini dijalankan baik atau tidak. Banyak cara yang dilakukan organisasi dalam menilai kinerja pegawainya, mulai dari menilai kinerja masa lampau sampai dengan kinerja masa depan. Rating scale, ranking scale, critical incident method, checklist technique, behavioral anchored rating scales, paired comparison, management by objectives, self appraisals, dan lain-lainnya.

c.Kompensasi
Kompensasi adalah apa-apa yang diberikan organisasi sebagai pengganti atau penukar dari apa-apa yang telah diberikan pegawai bagi organisasi atau perusahaan di mana dia bekerja. Manajemen kompensasi harus dikelola dengan ekstra cermat karena pada hakikatnya, aspek inilah yang paling memotivasi pegawai bekerja. Secara jujur, kalau pegawai ditanya tentang motivasinya bekerja, maka jawabnya untuk memperoleh penghasilan, bukan mencari pekerjaan. Manajemen kompensasi yang baik akan bisa (1) menarik orang yang berkualitas bekerja di organisasi, (2) mampu mempertahankan pegawai yang berkualitas tetap bisa berkualitas, dan (3) mampu menahan pegawai yang berkualitas untuk tidak keluar dari organisasi. Kompensasi ada yang bentuknya finansial dan non finansial, ada yang dinamakan kompensasi langsung (direct compensation) dan yang tidak langsung. Ada juga yang namanya bonus, insentif dan juga jasa produksi serta “profit sharing” . Manajemen kompensasi yang baik harus mempunyai internal dan external equity. Keadilan internal artinya jabatan yang berat (banyaknya dan rumitnya tugas, tanggungjawab), harus memperoleh kompensasi lebih baik daripada jabatan yang ringan. Sedangkan keadilan eksternal artinya kompensasi yang diterapkan oleh organisasi harus mampu bersaing dengan kompensasi yang diterapkan oleh organisasi sejenis lainnya, agar pegawai tidak mudah berpaling dan lalu pindah ke perusahaan lain.

d.Pendisiplinan Pegawai
Di samping kompensasi, pendidiplinan pegawai juga merupakan program yang digunakan untuk memotivasi pegawai. Arti pendisiplinan pegawai adalah tindakan yang dilakukan oleh organisasi ketika ada pegawai yang berperilaku tidak sesuai dengan aturan-aturan organisasi. Walaupun punya nuansa yang relative negative, sasarannya bukan untuk menghukum pegawai melainkan agar pegawai bisa berperilaku baik, sesuai dengan aturan yang ditetapkan organisasi. Jika pegawai malas bekerja, maka perlu didisiplinkan agar rajin bekerja. Berbeda dengan kompensasi, pendisiplinan pegawai bukanlah pekerjaan yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Pegawai kurang suka dikenakan tindakan pendisiplinan (disciplinary action) demikian pula bagi organisasi. Walau begitu, tindakan ini dalam waktu tertentu sangat diperlukan. Penegakan aturan-aturan organisasi merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi karena kalau tidak, tujuan organisasi tidak akan bisa dicapai. Tindakan pendisiplinan harus menganut asas-asas yang umum, yaitu bersifat progresif (makin berat pelanggarannya, makin berat pula sanksinya, misalnya, pertama terjadi pelanggaran, pegawai diperingatkan secara lisan. Jika melakukan lagi pelanggaran, peringatan tertulis dilayangkan. Jika masih juga melakukan pelanggaran maka pegawai diskors beberapa hari tanpa diberi upah; demikian seterusnya dilakukan. ) Prinsip umum kedua adalah berdasarkan “hukum kompor panas” – the hot stove rule, yaitu ada peringatan (warning) , segera (immediate) , konsisten (consistent) , dan tidak pilih kasih (impersonal) . Koseling merupakan program tindaklanjut dari pendisiplinan. Pegawai-pegawai yang dinilai telah melakukan pelanggaran berulang-ulang perlu di- berikan kesempatan untuk konsultasi guna membahas masalah yang dihadapi oleh mereka. Koselor biasanya berada di departemen atau bagian sumberdaya manusia. Perusahaan besar umumnya mempunyai koselor akhli yang bertugas menangani pekerjaan konseling.

4.Maintenance
Tujuan fungsi kelompok ke empat ini adalah memelihara pegawai agar tetap produktif dan puas dalam bekerja serta komit terhadap organisasi. Dalam fungsi ini dikembangkan program kesejahteraan pegawai yang antara lain mencakup :

a.Pemberian tunjangan-tunjangan
Tunjangan-tunjangan diberikan dengan tujuan meningkatkan loyalitas pegawai sehingga tidak dengan mudah meninggalkan organisasi. Tidak sedikit pegawai tetap bertahan di suatu organisasi bukan karena kompensasi (gaji atau upah) mereka memadai, melainkan karena tunjangan-tunjangan dinilai pantas. Tunjangan hari tua merupakan satu program yang mampu menahan pegawai tidak keluar dari organisasi. Tunjangan kesehatan atau sakit, tunjangan kemahalan, tunjangan hari raya, tunjangan kematian keluarga dan diri sendiri, tunjangan perumahan, tunjangan nikah, tunjangan melahirkan, dan lain sebagainya. Banyaknya jenis tunjangan sangat tergantung pada kemampuan serta kemauan organisasi.

b.Program kesehatan dan keselamatan kerja
Program kesehatan kerja ditujukan agar kesehatan pegawai tetap terpelihara dengan baik sehingga produktivitas mereka tidak terganggu. Beberapa perusahaan atau organisasi menggandeng perusahaan lain dalam mengelola program ini, misalnya perusahaan asuransi. Ada asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja dan lain sebagainya. Premi yang dibayarkan pegawai diatur sesuai dengan perjanjian di antara organisasi dengan perusahaan asuransi. Di Indonesia, ASTEK merupakan BUMN yang juga banyak bekerjasama dengan organisasi/perusahaan lain dalam hal asuransi kesehatan serta keselamatan kerja, bahkan termasuk juga asuransi untuk hari tua. Di organisasi atau perusahaan ekstraktif (pertambangan) serta industri manufaktur (pabrik-pabrik pengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi/jadi), program kesehatan serta keselamatan kerja merupakan program yang mendapat perhatian sangat serius, karena sifat pekerjaannya yang rentan terhadap terjadinya kecelakaan ketika sedang bekerja. Di Amerika Serikat program ini diatur dalam undang-undang dengan nama OSHA (Occupational Safety and Health Act).

c.Program komunikasi antar pekerja
Nama populer di Indonesia atas program ini adalah Hubungan Industrial (Industrial Relation). Tujuan utama program ini adalah menjembatani kepentingan tenaga kerja di satu pihak dengan kepetingan perusahaan (pengusaha) di pihak lainnya. Adanya Serikat Pekerja (Labor Union) merupakan satu bentuk konkret dari program hubungan industrial. Di beberapa negara, pemerintah diikut sertakan dalam program ini, misalnya di Indonesia dikenal dengan konsep “tripartid” – Pegawai, Penguaha, dan Pemerintah. Namun tidak sedikit juga organisasi yang justru tidak menghendaki campur tangan pemerintah, jadi hubungannya “bipartid”, yaitu hubungan di antara pegawai dengan pengusaha saja. Melalaui program ini, diharapkan masalah-masalah di bidang SDM bisa diselesaikan lebih baik dan menyeluruh.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka ketika kita mempelajari topik Pengantar Manajemen Sumberdaya Manusia, pokok-pokok pikirannya adalah sebagai berikut:

1.Dalam organisasi, kedudukan sumberdaya manusia adalah utama, karena sumberdaya manusia merupakan kekuatan yang membuat sumberdaya yang lain-lainnya bisa bekerja.

2.Demi kepentingan bersama, yang dicanangkan dalam bentuk tujuan organisasi, sumberdaya manusia bekerjasama secara efektif dan efisien guna mencapai produktivitas yang optimal.

3.Tujuan yang seyogianya dicapai oleh Manajemen Sumberdaya Manusia adalah terciptanya pegawai yang produktif, sekaligus juga merasa senang/puas dalam bekerja.

4.Agar tujuan Manajemen Sumberdaya Manusia tercapai maka berbagai kegiatan harus diprogramkan dan dilaksanakan. Kegiatan-kegitan tersebut dikelompokan ke dalam tiga kelompok yaitu inception (awal kegiatan), development (pengembangan), motivation (motivasi), dan maintenance (pemeliharaan).

5.Dalam kelompok inception (awal kegiatan) terdapat program perencanaan sumberdaya manusia, perekrutan calon pegawai, seleksi calon pegawai, dan penempatan awal.

6.Dalam kelompok development (pengembangan) yang sasarnnya adalah meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, sikap kerja positif, dilaksanakan melalaui program-program pelatihan, pengembangan pegawai secara individu maupun kelompok, dan pengembangan karier.

7.Dalam kelompok motivation (motivasi), organisasi mengembangkan program-program yang mampu meningkatkan kemauan pegawai untuk bekerja secara lebih baik. Total Quality Management, Kompensasi, Disiplin, dan Konseling , merupakan program-program yang umumnya dilakukan.

8.Kelompok kegiatan terakhir yang tujuannya adalah untuk meningkatkan komitmen atau loyalitas pegawai kepada organisasi dinamakan kelompok kegiatan “maintenance” atau pemeliharan. Pemberian tunjangan-tunjangan, program kesehatan dan keselamatan kerja, serta memelihara hubungan harmonis di antara pegawai dan perusahaan melalui serikat pekerja.




DAFTAR PUSTAKA

1.“What HRM Professional Can Do to Assume New Leadership Role” Resource March 1986, hal. 3
2.Robert Gandford Wright, “Managing Management Reources through Corporate Constitutionalism” Human Resource Management, Summer 1975, hal 15
3.William B. Werther, Jr. and Keith Davis, “Human Resources and Personnel Management” , McGraw Hill, 1989, hal 6
4.Harold C. White, “Personnel Administration and Organizational Productivity : An Employee View” , Personnel Administrator , August, 1981. hal 37
5.William B. Werther, Jr. and Keith Davis, “Human Resources and Personnel Management” , McGraw Hill, 1996, hal 499
6.David De Cenzo and Stephen P. Robbins, “Human Resource Management. Concepts and Practices “ John Wiley & Sons, Inc. 1994, hal 34

Tulisan singkat ini disusun untuk disisipkan ke dalam buku Pengantar Ilmu Administrasi Bisnis, Unpar Bandung, 2008

Jumat, 21 Agustus 2009

SOSIALISASI









SOSIALISASI*)

Hasan Mustafa

Ketika bayi dilahirkan, dia tidak tahu apa-apa tentang diri dan lingkungannya. Walau begitu, bayi tersebut memiliki potensi untuk mempelajari diri dan lingkungannya. Apa dan bagaimana dia belajar, banyak sekali dipengaruhi oleh lingkungan sosial di mana dia dilahirkan. Kita bisa berbahasa Indonesia karena lingkungan kita berbahasa Indonesia; kita makan menggunakan sendok dan garpu, juga karena lingkungan kita melakukan hal yang sama; Demikian pula apa yang kita makan, sangat ditentukan oleh lingkungan kita masing-masing.
Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknakan sebagai sebuah proses di mana kita belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana kesemuanya itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses yang terus terjadi selama hidup kita.

Syarat terjadinya sosialisasi
Pada dasarnya, sosialisasi memberikan dua kontribusi fundamental bagi kehidupan kita. Pertama, memberikan dasar atau fondasi kepada individu bagi terciptanya partisipasi yang efektif dalam masyarakat, dan kedua memungkinkan lestarinya suatu masyarakat – karena tanpa sosialisasi akan hanya ada satu generasi saja sehingga kelestarian masyarakat akan sangat terganggu..Contohnya, masyarakat Sunda, Jawa, Batak, dsb. akan lenyap manakala satu generasi tertentu tidak mensosialisasikan nilai-nilai kesundaan, kejawaan, kebatakan kepada generasi berikutnya. Agar dua hal tersebut dapat berlangsung maka ada beberapa kondisi yang harus ada agar proses sosialisasi terjadi. Pertama adanya warisan biologikal, dan kedua adalah adanya warisan sosial.


1. Warisan dan Kematangan Biologikal .
Dibandingkan dengan binatang, manusia secara biologis merupakan makhluk atau spesis yang lemah karena tidak dilengkapi oleh banyak instink. Kelebihan manusia adalah adanya potensi untuk belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Warisan biologis yang merupakan kekuatan manusia, memungkinkan dia melakukan adaptasi pada berbagai macam bentuk lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan manusia bisa memahami masyarakat yang senantiasa berubah, sehingga lalu dia mampu berfungsi di dalamnya, menilainya, serta memodifikasikannya.
Namun tidak semua manusia mempunyai warisan biologis yang baik, sebab ada pula warisan biologis yang bisa menghambat proses sosialisasi. Manusia yang dilahirkan dengan cacat pada otaknya atau organ tubuh lainnya (buta, tuli/bisu, dsb.) akan mengalami kesulitan dalam proses sosialisasi.
Proses sosialisasi juga dipengaruhi oleh kematangan biologis (biological maturation), yang umumnya berkembang seirama dengan usia biologis manusia itu sendiri. Misalnya, bayi yang usianya empat minggu cenderung memerlukan kontak fisik, seperti ciuman, sentuhan, pelukan. Begitu usianya enambelas minggu maka dia mulai bisa membedakan muka orang lain yang dekat dengan

dirinya, dan lalu mulai bisa tersenyum. Pada usia tiga bulan, seorang bayi jangan diminta untuk berjalan atau pun berhitung, berpakaian, dan pekerjaan lainnya. Semua itu akan sia-sia, menghabiskan waktu karena secara biologis, bayi tersebut belum cukup matang. Dengan demikian warisan dan kematangan biologis merupakan syarat pertama yang perlu diperhatikan dalam proses sosialisasi.

2. Lingkungan yang menunjang.
Sosialisasi juga menuntut adanya lingkungan yang baik yang menunjang proses tersebut, di mana termasuk di dalamnya interaksi sosial. Kasus di bawah ini dapat dijadikan satu contoh tentang pentingnya lingkungan dalam proses sosialisasi. Susan Curtiss (1977) menaruh minat pada kasus anak yang diisolasikan dari lingkungan sosialnya. Pada tahun 1970 di California ada seorang anak berusia tigabelas tahun bernama Ginie yang diisolasikan dalam sebuah kamar kecil oleh orang tuanya. Dia jarang sekali diberi kesempatan berinteraksi dengan orang lain. Kejadian ini diketahui oleh pekerja sosial dan kemudian Ginie dipindahkan ke rumah sakit, sedangkan orang tuanya ditangkap dengan tuduhan melakukan penganiayaan dengan sengaja. Pada saat akan diadili ternyata ayahnya bunuh diri.
Ketika awal berada di rumah sakit, kondisi Ginie sangat buruk. Dia kekurangan gizi, dan tidak mampu bersosialisasi. Setelah dilakukan pengujian atas kematangan mentalnya ternyata mencapai skor seperti kematangan mental anak-anak berusia satu tahun. Para psikolog, akhli bahasa, akhli syaraf di UCLA (Universitas California) merancang satu program rehabilitasi mental Ginie. Empat tahun program tersebut berjalan ternyata kemajuan mental Ginie kurang memuaskan. Para akhli tersebut heran mengapa Ginie mengalami kesukaran dalam memahami prinsip tata bahasa, padahal secara genetis tidak dijumpai cacat pada otaknya. Sejak dimasukan ke rumah sakit sampai dengan usia dua puluh tahun, Ginie dilibatkan dalam lingkungan yang sehat, yang menunjang proses sosialisasi. Hasilnya, lambat laun Ginie mulai bisa berpartisipasi dengan lingkungan sekitarnya.
Penelitian lain dilakukan oleh Rene Spitz (1945). Dia meneliti bayi-bayi yang ada di rumah yatim piatu yang memperoleh nutrisi dan perawatan medis yang baik namun kurang memperoleh perhatian personal. Ada enam perawat yang merawat empat puluh lima bayi berusia di bawah delapan belas bulan. Hampir sepanjang hari, para bayi tersebut berbaring di dalam kamar tidur tanpa ada “human-contact”. Dapat dikatakan, bayi-bayi tersebut jarang sekali menangis, tertawa, dan mencoba untuk bicara. Skor tes mental di tahun pertama sangat rendah, dan dua tahun kemudian penelitian lanjutan dilakukan dan ditemukan di atas sepertiga dari sembilan puluh satu anak-anak meninggal dunia. Dari apa yang ditemukannya, Spitz menarik kesimpulan bahwa kondisi lingkungan fisik dan psikis seorang bayi pada tahun pertama sangat mempengaruhi pembentukan mentalnya. Bayi pada saat itu sangat memerlukan sentuhan-sentuhan yang memunculkan rasa aman – kehangatan, dan hubungan yang dekat dengan manusia dewasa – sehingga bayi dapat tumbuh secara normal di usia-usia selanjutnya.

Apa yang disosialisasikan ? : Budaya .
Anak dilahirkan dalam dunia sosial. Mereka merupakan anggota baru di dunia tersebut. Dari kacamata masyarakat, fungsi sosialisasi adalah mengalihkan segala macam informasi yang ada dalam masyarakat tersebut kepada anggota-anggota barunya agar mereka dapat segera dapat berpartisipasi di dalamnya.
Berdasarkan pengalaman yang kita miliki, banyak aspek-aspek kehidupan kita relatif stabil dan bisa diprediksi. Jalan-jalan yang cenderung padat di pagi hari, orang berlibur di akhir pekan, anak-anak usia enam tahun mulai bersekolah, tata letak bangunan fisik suatu kota – ada alun-alun, pusat perbelanjaan, terminal bis, dsb., makan tiga kali dalam satu hari. Kesemua perilaku masyarakat tadi sudah membentuk satu pola perilaku umum yang secara teratur terjadi setiap hari.
Keteraturan yang relatif stabil tersebut mengembangkan satu pola interaksi sebagai satu bentuk dari budaya. Budaya atau kebudayaan adalah keseluruhan hal yang yang diciptakan oleh unit-unit sosial di mana setiap anggota unit sosial tersebut memberikan makna yang relatif sama pada hal-hal tadi; keyakinannya, nilai, norma, pengetahuan, bahasa, pola interaksi, dan juga hal-hal yang berkaitan dengan sarana fisik, seperti bangunan, mobil, baju, buku.

Komponen atau unsur Budaya
Nilai adalah prinsip-prinsip etika yang dipegang dengan kuat oleh individu atau kelompok sehingga mengikatnya dan lalu sangat berpengaruh pada perilakunya. Nilai berkaitan dengan gagasan tentang baik dan buruk, yang dikehendaki dan yang tak dikehendaki. Nilai membentuk norma, yaitu aturan-aturan baku tentang perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap anggota suatu unit sosial sehingga ada sanksi negatif dan positif. Norma sendiri ada berbagai tingkatan , yaitu adat istiadat (folkways) – cara makan, cara berpakaian, - anggota yang tidak melaksanakannya “hanya” kena sanksi sosial mis : dianggap aneh, “nyleneh”; “mores” – aturan bisa tidak tertulis namun sanksinya relatif berat - misalnya telanjang bulat di depan kelas akan dianggap gila ; dan hukum (laws) – aturannya tertulis dan perlanggarnya bisa diperjarakan. Selain nilai dan norma, satu unsur budaya lainnya adalah peran. Peran atau peranan adalah seperangkat harapan atau tuntutan kepada seseorang untuk menampilkan perilaku tertentu karena orang tersebut menduduki suatu status sosial tertentu.

Siapa yang mensosialisasikan budaya ? : Agen Sosialisasi
Institusi. Institusi adalah satu bentuk unit sosial yang memfokuskan pada pemenuhan satu bentuk kebutuhan masyarakat. Misalnya sekolah, keluarga, agama. Mass-media : koran, majalah, televisi, radio. Individu dan kelompok – kakak, adik, ayah, ibu, teman, guru, kelompok hobi, korpri, dharmawanita, dsb.

Bagaimana cara mensosialisasikan budaya ?
Sosialisasi melibatkan proses pembelajaran . Pembelajaran tidak sekedar di sekolah formal, melainkan berjalan di setiap saat dan di mana saja. Yang dimaksud dengan belajar atau pembelajaran adalah modifikasi perilaku seseorang yang relatif permanen yang diperoleh dari pengalamannya di dalam lingkungan sosial/ fisik. Seseorang selalu mengucapkan salam pada saat bertemu orang lain yang dikenalnya; perilaku tersebut merupakan hasil belajar yang diperoleh dari lingkungan di mana dia dibesarkan. Demikin pula seorang yang suka makan “jengkol/jering”, mereka belajar dari lingkungannya.
Ada tiga teori yang relatif kuat yang dapat menjelaskan proses pembelajaran dalam sosialisasi. Pertama adalah teori pembelajaran sosial (social learning theory), kedua teori perkembangan individu (developmental theory), dan ketiga teori interaksi simbolis (symbolic interaction theory).

A. Berdasarkan teori pembelajaran sosial,

Pembelajaran terjadi melalui dua cara. (1) dikondisikan, dan (2) meniru perilaku orang lain. Tokoh utama pendekatan pertama adalah B.F. Skinner (1953), yang terkenal dengan konsep operant conditioning – Berdasarkan berbagai percobaan melalui tikus dan merpati, Skinner memperkenalkan konsepnya tersebut. Perilaku yang sekarang ditampilkan merupakan hasil konsekuensi positif atau negatif dari perilaku yang sama sebelumnya. Seorang anak rajin belajar karena memperoleh hadiah dari orang tuanya. Seorang murid yang mempeoleh nilai baik, dipuji-puji di depan orang banyak. Memuji, memberi imbalan, merupakan cara untuk memunculkan bentuk perilaku tertentu. Memarahi, memberi hukuman, merupakan cara untuk menghilangkan perilaku tertentu. Dengan demikian jika generasi awal ingin melestarikan berbagai bentuk perilaku kepada generasi sesudahnya, maka kepada setiap perilaku yang dianggap perlu dilestarikan harus diberikan imbalan. Seorang anak diminta berdoa sebelum makan, dan setelah selesai berdoa, orang tuanya memujinya .
Pendekatan kedua dikenal dengan nama “observational learning”. Tokoh di balik konsep tersebut adalah Albert Bandura. Inti perndekatan ini adalah bahwa perilaku seseorang diperoleh melalui proses peniruan perilaku orang lain. Individu meniru perilaku orang lain karena konsekuensi yang diterima oleh orang lain yang menampilkan perilaku tersebut positif, dalam pandangan individu tadi. Jika kita ingin mensosialisasikan hidup secara teratur, disiplin, maka caranya adalah memberikan contoh. Di samping itu bisa juga menciptakan model yang layak untuk ditiru.

B. Berdasarkan teori-teori perkembangan

Pembelajaran , sosialisasi di tahap awal melibatkan serangkaian tahapan. Setiap tahap akan memunculkan bentuk perilaku tertentu dan setiap manusia perilakunya berkembang melalui tahapan yang sama. Misalnya, tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Erik Ericson (1950), ada delapan tahapan. Tahap pertama pengembangan rasa percaya pada lingkungan, tahap kedua pengembangan kemandirian, tahap ketiga pengembangan inisiatif, tahap keempat pengembangan kemampuan psikis dan pisik, tahap kelima pengembangan identitas diri. Kelima tahapan tersebut terjadi pada saat sosialisasi di masa kanak-kanak. Tahap perkembangan setelah itu adalah tahap keenam merupakan pengembangan hubungan dengan orang lain secara intim, tahap ketujuh pengembangan pembinaan keluarga/keturunan, dan tahap kedelapan pengembangan penerimaan kehidupan.
Interaksi dengan manusia lain dalam proses sosialisasi merupakan satu keharusan. Interaksi senantiasa mengandalkan proses komunikasi, dan salah satu alat komunikasi adalah bahasa. Kapasitas seseorang berbahasa dipengaruhi oleh akar biologis yang sangat dalam, namun pelaksanaan kapasitas tersebut sangat ditentukan oleh lingkungan budaya di mana kita dibesarkan. Berdasarkan teori perkembangan ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah di tahun pertama, yaitu tahapan sebelum seorang anak berbahasa (prelinguistic stage). Disebut sebagai “sebelum berbahasa” karena bunyi yang dikeluarkan belum disebut kata-kata. Misalnya : “a-a-a-a, det-det-det, ga-ga-ga, “. Tahap kedua adalah tahap di mana anak sudah mulai belajar berjalan (toddlers). Mulai belajar bicara, misalnya “tu-tu” untuk kata “itu”; “dul” untuk kata “tidur”, “mi-mi” untuk kata “minum”, dst. Di samping bahasa verbal, dalam tahapan itu juga, anak juga sudah mulai menggunakan bahasa nonverbal (body language). Menganggukan kepala untuk mengatakan ya, menunjuk dengan jari untuk mengatakan itu, dsb. Tahap ketiga : sebelum masuk sekolah. Anak sudah bisa bicara dengan kata-kata dan struktur bahasa yang sederhana. dan terbatas pada apa yang diajarkan oleh keluarga. Tahap berikutnya terjadi setelah anak mulai sekolah. Dalam tahapan ini anak memperoleh perbendaharaan kata yang lebih banyak. Mereka juga belajar menyusun kata-kata secara lebih benar sesuai dengan ejaan yang secara umum digunakan oleh masyarakat luas.
Selain perkembangan dalam hal-hal tersebut sebelumnya, manusia mengalami perkembangan moral (moral development). Salah satu konsep yang banyak dibahas adalah teori yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg (1984).

C. Berdasarkan teori interaksi simbolis
Asal teori ini dari disiplin sosiologi, yaitu satu teori yang memusatkan pada kajian tentang bagaimana individu menginterpretasikan dan memaknakan interaksi-interaksi sosialnya. Di dalam teori ini ditekankan bagaimana peran aktif seorang anak dalam sosialisasi. Sejak masa kanak-kanak, kita belajar mengembangkan kemampuan diri (mengevaluasi diri, memotivasi diri, mengendalikan diri). Menurut Herbert Mead (1934) ada tiga proses tahapan pengembangan diri yang memungkinkan seorang anak menjadi mampu berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial. Tahap pertama adalah preparatory stage, tahap kedua play stage, dan tahap terakhir adalah game stage.
Pada tahapan pertama, anak belum mampu memandang perilakunya sendiri. Mereka meniru perilaku orang lain yang ada di sekitarnya dan mencoba memberikan makna. Anak juga mulai belajar menangkap makna dari bahasa yang digunakannya. Pada tahapan kedua, anak mulai belajar berperan seperti orang lain. Berperilaku seperti ayahnya, ibunya, guru, dsb. Melalui bermain peran yang beraneka ragam itu anak mempelajari pola-pola perilaku individu lainnya . Tahap ketiga merupakan tahapan di mana anak melatih ketrampilan sosialnya. Dia belajar bagaimana memenuhi harapan orang lain yang jumlahnya tidak hanya satu. Memenuhi harapan teman-temannya, kelompok bermainnya, kelompok belajarnya, dsb.


*) Disadur dari ”Early Socialization” Wiggins, Wiggins & Zanden, 1994.

Selasa, 18 Agustus 2009

Building A Life

Sabtu, 15 Agustus 2009

PRESPEKTIF PSIKOLOGI SOSIAL

PRESPEKTIF DALAM PSIKOLOGI SOSIAL

Hasan Mustafa

Pengantar :
Tulisan ini disusun sebagai upaya membantu mahasiswa memahami isi mata kuliah Psikologi Sosial pada program studi Administrasi Negara Fisip Unpar. Acuan uraian ini adalah buku yang ditulis oleh James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, dan James Vander Zanden ( 1994), dilengkapi oleh sumber bacaan lain. Topik lain yang juga merupakan pokok bahasan dalam mata kuliah tersebut akan segera disusun. Semoga bermanfaat.

Akar awal Psikologi Sosial
Walau psikologi sosial merupakan disiplin yang telah lama ada ( sejak Plato dan Aristotle), namun secara resmi, disiplin ini menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak tahun 1908. Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu "Introduction to Social Psychology" ditulis oleh William McDougall - seorang psikolog - dan "Social Psychology : An Outline and Source Book , ditulis oleh E.A. Ross - seorang sosiolog. Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat dipahami bahwa psikologi sosial bisa di"claim" sebagai bagian dari psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi. Psikologi sosial juga merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika disiplin ini banyak dibina oleh jurusan sosiologi - di American Sociological Association terdapat satu bagian yang dinamakan "social psychological section", sedangkan di Indonesia, secara formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.

Apakah perbedaan antara Sosiologi dan Psikologi ??
Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial . Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal - persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya - sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Psikologi Sosial
Pertanyaan yang paling mendasar yang senantiasa menjadi kajian dalam psikologi sosial adalah : " Bagaimana kita dapat menjelaskan pengaruh orang lain terhadap perilaku kita?'". Misalnya di Prancis, para analis sosial sering mengajukan pertanyaan mengapa pada saat revolusi Prancis, perilaku orang menjadi cenderung emosional ketimbang rasional? Demikian juga di Jerman dan Amerika Serikat dilakukan studi tentang kehadiran orang lain dalam memacu prestasi seseorang . Misalnya ketika seorang anak belajar seorang diri dan belajar dalam kelompok, bisa menunjukan prestasi lebih baik dibandingkan ketika mereka belajar sendiri. Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia "berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya"
Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis - lalu dikenal dengan penjelasan "nature" - dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka - dikenal dengan penjelasan "nurture". Penjelasan "nature" dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).
Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan - yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan "nurture explanation". Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain.
Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial - seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu : perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).
Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan : "Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?". Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang.
Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.
Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah : " Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?". Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai "seorang ayah". Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk interaksi dan harapannya. Untuk lebih jelas, di bawah ini diuraikan satu persatu keempat prespektif dalam psikologi sosial.

1. Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)
Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941, 1919). Pendekatan ini cukup banyak mendapat perhatian dalam psikologi di antara tahun 1920-an s/d 1960-an. Ketika Watson memulai penelitiannya, dia menyarankan agar pendekatannya ini tidak sekedar satu alternatif bagi pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial, tetapi juga merupakan alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran, kesadaran, atau pun imajinasi. Watson menolak informasi instinktif semacam itu, yang menurutnya bersifat "mistik", "mentalistik", dan "subyektif". Dalam psikologi obyektif maka fokusnya harus pada sesuatu yang "dapat diamati" (observable), yaitu pada "apa yang dikatakan (sayings) dan apa yang dilakukan (doings)". Dalam hal ini pandangan Watson berbeda dengan James dan Dewey, karena keduanya percaya bahwa proses mental dan juga perilaku yang teramati berperan dalam menyelaskan perilaku sosial.
Para "behaviorist" memasukan perilaku ke dalam satu unit yang dinamakan "tanggapan" (responses), dan lingkungan ke dalam unit "rangsangan" (stimuli). Menurut penganut paham perilaku, satu rangsangan dan tanggapan tertentu bisa berasosiasi satu sama lainnya, dan menghasilkan satu bentuk hubungan fungsional. Contohnya, sebuah rangsangan " seorang teman datang ", lalu memunculkan tanggapan misalnya, "tersen-yum". Jadi seseorang tersenyum, karena ada teman yang datang kepadanya. Para behavioris tadi percaya bahwa rangsangan dan tanggapan dapat dihubungkan tanpa mengacu pada pertimbangan mental yang ada dalam diri seseorang. Jadi tidak terlalu mengejutkan jika para behaviorisme tersebut dikategorikan sebagai pihak yang menggunakan pendekatan "kotak hitam (black-box)" . Rangsangan masuk ke sebuah kotak (box) dan menghasilkan tanggapan. Mekanisme di dalam kotak hitam tadi - srtuktur internal atau proses mental yang mengolah rangsangan dan tanggapan - karena tidak dapat dilihat secara langsung (not directly observable), bukanlah bidang kajian para behavioris tradisional.
Kemudian, B.F. Skinner (1953,1957,1974) membantu mengubah fokus behaviorisme melalui percobaan yang dinamakan "operant behavior" dan "reinforcement". Yang dimaksud dengan "operant condition" adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan dengan cara tertentu, lalu memunculkan akibat atau perubahan dalam lingkungan tersebut. Misalnya, jika kita tersenyum kepada orang lain yang kita hadapi, lalu secara umum, akan menghasilkan senyuman yang datangnya dari orang lain tersebut. Dalam kasus ini, tersenyum kepada orang lain tersebut merupakan "operant behavior". Yang dimaksud dengan "reinforcement" adalah proses di mana akibat atau perubahan yang terjadi dalam lingkungan memperkuat perilaku tertentu di masa datang . Misalnya, jika kapan saja kita selalu tersenyum kepada orang asing (yang belum kita kenal sebelumnya), dan mereka tersenyum kembali kepada kita, maka muncul kemungkinan bahwa jika di kemudian hari kita bertemu orang asing maka kita akan tersenyum. Perlu diketahui, reinforcement atau penguat, bisa bersifat positif dan negatif. Contoh di atas merupakan penguat positif. Contoh penguat negatif, misalnya beberapa kali pada saat kita bertemu dengan orang asing lalu kita tersenyum dan orang asing tersebut diam saja atau bahkan menunjukan rasa tidak suka, maka dikemudian hari jika kita bertemu orang asing kembali, kita cenderung tidak tersenyum (diam saja).
Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba menjelaskan secara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi. Beberapa teori antara lain adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).

a.Teori Pembelajaran Sosial.
Di tahun 1941, dua orang psikolog - Neil Miller dan John Dollard - dalam laporan hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan "social learning " - "pembelajaran sosial". Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti aturan baku yang telah ditetapkan oleh masyarakat maka "para individu harus dilatih, dalam berbagai situasi, sehingga mereka merasa nyaman ketika melakukan apa yang orang lain lakukan, dan merasa tidak nyaman ketika tidak melakukannya.", demikian saran yang dikemukakan oleh Miller dan Dollard.
Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Lebih jauh lagi, sekali perilaku peniruan terpelajari (learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum untuk rangsangan yang sama. Misalnya, anak-anak cenderung lebih suka meniru orang-orang yang mirip dengan orang yang sebelumnya memberikan imbalan. Jadi, kita mempelajari banyak perilaku "baru" melalui pengulangan perilaku orang lain yang kita lihat. Kita contoh perilaku orang-orang lain tertentu, karena kita mendapatkan imbalan atas peniruan tersebut dari orang-orang lain tertentu tadi dan juga dari mereka yang mirip dengan orang-orang lain tertentu tadi, di masa lampau.
Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963), mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang kita terima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" - pembelajaran melalui pengamatan. Contohnya, percobaan Bandura dan Walters mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film atau bahkan film karton.
Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial seyogianya diperbaiki lebih jauh lagi. Dia mengatakan bahwa teori pembelajaran sosial yang benar-benar melulu menggunakan pendekatan perilaku dan lalu mengabaikan pertimbangan proses mental, perlu dipikirkan ulang. Menurut versi Bandura, maka teori pembelajaran sosial membahas tentang (1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, (2) cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, (3) begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational opportunity - kemungkinan bisa diamati oleh orang lain.

b.Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)
Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya, pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan - hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.
Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya "Elementary Forms of Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi :"Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi ". Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan jika ada imbalannya. Proposisi lain yang juga memperkuat proposisi tersebut berbunyi : "Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali". Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran sosial adalah "distributive justice" - aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi " seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya - makin tingghi pengorbanan, makin tinggi imbalannya - dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya - makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan".
Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

2. Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)
Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di samping instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka dipandang terlampau ekstrem - karena mengabaikan kegiatan mental manusia.
Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif .
Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang diartikannya sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual dan potensial individu dalam dunia sosial". Sikap merupakan predisposisi perilaku. Beberapa teori yang melandasi perpektif ini antara lain adalah Teori Medan (Field Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution Theory), dan Teori Kognisi Kontemporer.

a. Teori Medan (Field Theory)
Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui pendekatan konsep "medan"/"field" atau "ruang kehidupan" - life space. Untuk memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan), bebas - lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun Lewin kurang sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Dia merasa bahwa semua peristiwa psikologis apakah itu berupa tindakan, pikiran, impian, harapan, atau apapun, kesemuanya itu merupakan fungsi dari "ruang kehidupan"- individu dan lingkungan dipandang sebagai sebuah konstelasi yang saling tergantung satu sama lainnya. Artinya "ruang kehidupan" merupakan juga merupakan determinan bagi tindakan, impian, harapan, pikiran seseorang. Lewin memaknakan "ruang kehidupan" sebagai seluruh peristiwa (masa lampau, sekarang, masa datang) yang berpengaruh pada perilaku dalam satu situasi tertentu.
Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan dengan konteks - lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan konsep "gestalt" dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya, kalau kita melihat bangunan, kita tidak melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara satu persatu. Demikian pula kalau kita mempelajari perilaku individu, kita tidak bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari konteks di mana individu tersebut berada.

b. Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and Attribution Theory)
Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik. Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance). Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang (imbalance). Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman. Intinya sikap kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman.
Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam kerangka "sebab dan akibat". Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan mencocokannya dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi untuk memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider memperkenalkan konsep "causal attribution" - proses penjelasan tentang penyebab suatu perilaku. Mengapa Tono pindah ke kota lain ?, Mengapa Ari keluar dari sekolah ?. Kita bisa menjelaskan perilaku sosial dari Tono dan Ari jika kita mengetahui penyebabnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan atau situasi.

c. Teori Kognitif Kontemporer
Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap. Istilah "kognisi" digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi istilah "schema" (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat menginterpretasikan pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.
Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.

3. Perspektif Struktural
Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sosial dalam hal menjelaskan perilaku sosial seseorang. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang dapat dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena kebiasaan, dan (3) juga yang bersumber dari proses mental. Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik mungkin lalu menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu. William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok - yaitu adat-istiadat masyarakat - atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas "diri" (self) - perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri - self.
Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu- individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang melandasi persektif strukturan adalah Teori Peran (Role Theory), Teori Pernyataan - Harapan (Expectation-States Theory), dan Posmodernisme (Postmodernism)

a. Teori Peran (Role Theory)
Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannya dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun, pensiun usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading). Dalam masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai bermacam-macam pembagian lagi.

b. Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah tentu atribut yang paling berpengaruh terhadap munculnya kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan ketrampilan kerjanya. Anggota-anggota kelompok dituntut memiliki motivasi dan ketrampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diharapkan bisa ditampilkan sebaik mungkin.
Bagaimanapun juga, kita sering kekurangan informasi tentang kemampuan yang berkaitan dengan tugas yang relevan, dan bahkan ketika kita memiliki informasi, yang muncul adalah bahwa kita juga harus mendasarkan harapan kita pada atribut pribadi dan kelompok seperti : jenis kelamin, ras, dan usia. Dalam beberapa masyarakat tertentu, beberapa atribut pribadi dinilai lebih penting daripada atribut lainnya. Untuk menjadi pemimpin, jenis kelamin kadang lebih diprioritaskan ketimbang kemampuan. Di Indonesia, untuk menjadi presiden, ras merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi. Berger menyebut gejala tersebut sebagai “difusi karakteristik status”; karakteristik status mempengaruhi harapan kelompok kerja. Status laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan dalam soal menjadi pemimpin, warganegara pribumi asli lebih diberi tempat menduduki jabatan presiden. Difusi karakteristik status tersebut ( jenis kelamin, ras, usia, dan lainnya) dengan demikian, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial.

c. Posmodernisme (Postmodernism)
Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) . Dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan..
Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasilkannya.
Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi oleh seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai “ pilihan kita sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dalam struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap musik “rap” tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik “rap” menjadi gaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap”, dia bukan remaja. Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di sekelilingnya , bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”.
Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur sosial – pola interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat – sebagian besarnya pembentuk dan sekaligus juga penghambat perilaku individual. Dalam pandangan ini, individu mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan struktur sosial yang menekannya.

4. Perspektif Interaksionis (Interactionist Perspective)
Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead (1934) yang mengajar psiokologi sosial pada departemen filsafat Universitas Chicago, mengembangkan teori ini. Mead percaya bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial menghasilkan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengakui bahwa individu-individu yang memegang posisi berbeda dalam suatu kelompok, mempunyai peran yang berbeda pula, sehingga memunculkan perilaku yang juga berbeda. Misalnya, perilaku pemimpin berbeda dengan pengikutnya. Dalam kasus ini, Mead tampak juga seorang strukturis. Namun dia juga menentang pandangan bahwa perilaku kita melulu dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau struktur sosial. Sebaliknya Mead percaya bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah membantu menciptakan lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi, dia memberi catatan bahwa walau kita sadar akan adanya sikap bersama dalam suatu kelompok/masyarakat, namun hal tersebut tidaklah berarti bahwa kita senantiasa berkompromi dengannya.
Mead juga tidak setuju pada pandangan yang mengatakan bahwa untuk bisa memahami perilaku sosial, maka yang harus dikaji adalah hanya aspek eksternal (perilaku yang teramati) saja. Dia menyarankan agar aspek internal (mental) sama pentingnya dengan aspek eksternal untuk dipelajari. Karena dia tertarik pada aspek internal dan eksternal atas dua atau lebih individu yang berinteraksi, maka dia menyebut aliran perilakunya dengan nama “social behaviorism”. Dalam perspektif interaksionis ada beberapa teori yang layak untuk dibahas yaitu Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory), dan Teori Identitas (Identity Theory).

a. Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory)
Walau Mead menyarankan agar aspek internal juga dikaji untuk bisa memahami perilaku sosial, namun hal tersebut bukanlah merupakan minat khususnya. Justru dia lebih tertarik pada interaksi, di mana hubungan di antara gerak-isyarat (gesture) tertentu dan maknanya, mempengaruhi pikiran pihak-pihak yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi Mead, gerak-isyarat yang maknanya diberi bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam interaksi adalah merupakan “satu bentuk simbol yang mempunyai arti penting” ( a significant symbol”). Kata-kata dan suara-lainnya, gerakan-gerakan fisik, bahasa tubuh (body langguage), baju, status, kesemuanya merupakan simbol yang bermakna.
Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, di mana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang dikeluarkan orang lain, demikian pula perilaku orang lain tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, kita mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan orang lain, kita menangkap pikiran, perasaan orang lain tersebut. Teori ini mirip dengan teori pertukaran sosial.
Interaksi di antara beberapa pihak tersebut akan tetap berjalan lancar tanpa gangguan apa pun manakala simbol yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak dimaknakan bersama sehingga semua pihak mampu mengartikannya dengan baik. Hal ini mungkin terjadi karena individu-individu yang terlibat dalam interaksi tersebut berasal dari budaya yang sama, atau sebelumnya telah berhasil memecahkan perbedaan makna di antara mereka. Namun tidak selamanya interaksi berjalan mulus. Ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan simbol yang tidak signifikan – simbol yang tidak bermakna bagi pihak lain. Akibatnya orang-orang tersebut harus secara terus menerus mencocokan makna dan merencanakan cara tindakan mereka.
Banyak kualitas perilaku manusia yang belum pasti dan senantiasa berkembang : orang-orang membuat peta, menguji, merencanakan, menunda, dan memperbaiki tindakan-tindakan mereka, dalam upaya menanggapi tindakan-tindakan pihak lain. Sesuai dengan pandangan ini, individu-individu menegosiasikan perilakunya agar cocok dengan perilaku orang lain.

b. Teori Identitas (Identity Theory)
Teori Indentitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980). Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan saling mempengaruhi di antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu dan masyarakat dipandang sebagai dua sisi dari satu mata uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi, namun struktur sosial membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker tampaknya setuju dengan perspektif struktural, khususnya teori peran. Namun dia juga memberi sedikit kritik terhadap teori peran yang menurutnya terlampau tidak peka terhadap kreativitas individu.
Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep diri/self (dari teori interaksi simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam berinteraksi dengan orang lain, kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri yang berbeda dengan diri orang lain, yang oleh Stryker dinamakan “identitas”. Jika kita memiliki banyak peran, maka kita memiliki banyak identitas. Perilaku kita dalam suatu bentuk interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita, begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita.
Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas mendudukan individu sebagai pihak yang aktif dalam menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan sosial. Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial, namun jika hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka hal tersebut kurang memadai.

RANGKUMAN
Telah kita bahas empat perspektif dalam psikologi sosial. Yang dimaksud dengan perspektif adalah asumsi-asumsi dasar yang paling banyak sumbangannya kepada pendekatan psikologi sosial. Perspektif perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita paling baik dijelaskan melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan lingkungan yang menyebabkan perilaku kita berubah. Perspektif kognitif menjelaskan perilaku sosial kita dengan cara memusatkan pada bagaimana kita menyusun mental (pikiran, perasaan) dan memproses informasi yang datangnya dari lingkungan . Kedua perspektif tersebut banyak dikemukakan oleh para psikolog sosial yang berlatar belakang psikologi.
Di samping kedua perspektif di atas, ada dua perspektif lain yang sebagian besarnya diutarakan oleh para psikolog sosial yang berlatas belakang sosiologi. Perspektif struktural memusatkan perhatian pada proses sosialisasi, yaitu proses di mana perilaku kita dibentuk oleh peran yang beraneka ragam dan selalu berubah, yang dirancang oleh masyarakat kita. Perspektif interaksionis memusatkan perhatiannya pada proses interaksi yang mempengaruhi perilaku sosial kita. Perbedaan utama di antara kedua perspektif terakhir tadi adalah pada pihak mana yang berpengaruh paling besar terhadap pembentukan perilaku. Kaum strukturalis cenderung meletakan struktur sosial (makro) sebagai determinan perilaku sosial individu, sedangkan kaum interaksionis lebih memandang individu (mikro) merupakan agen yang aktif dalam membentuk perilakunya sendiri.
Karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menjelaskan perilaku sosial maka seringkali muncul pertanyaan : “Teori mana yang paling benar ?” atau “teori mana yang terbaik?” . Hampir seluruh psikolog sosial akan menjawab bahwa tidak ada teori yang salah atau yang paling baik, atau paling jelek. Setiap teori mempunyai keterbatasan dalam aplikasinya. Misalnya dalam mempelajari agresi (salah satu bentuk perilaku sosial), para behavioris bisa memusatkan pada pengalaman belajar yang mendorong terjadinya perilaku agresif – pada bagaimana orang tua, guru, dan pihak-pihak lain yang memberi perlakuan positif pada perilaku agresif. Bagi yang tertarik pada perspektif kognitif maka obyek kajiannya adalah pada bagaimana seseorang mempersepsi, interpretasi, dan berpikir tentang perilaku agresif. Seorang psikolog sosial yang ingin menggunakan teori medan akan mengkaji perilaku agresif dengan cara melihat hubungan antara karakteristik individu dengan situasi di mana perilaku agresif tersebut ditampilkan. Para teoritisi pertukaran sosial bisa memusatkan pada adanya imbalan sosial terhadap individu yang menampilkan perilaku agresif. Jika memakai kacamata teori peran, perilaku agresif atau tidak agresif ditampilkan oleh seseorang karena harapan-harapan sosial yang melekat pada posisi sosialnya harus dipenuhi.
Demikianlah, setiap teori bisa digunakan untuk menjadi pendekatan yang efektif tidak untuk semua aspek perilaku. Teori peran lebih efektif untuk menjelaskan perilaku X dibanding dengan teori yang berperspektif kognitif, misalnya.

Buku Acuan :

Theories of Social Psychology – Marvin E. Shaw / Philip R. Costanzo, Second Edition, 1985, McGraw-Hill, Inc.

Thinking Sociologically, Sheldon Goldenberg, 1987, Wadsworth, Inc.

Social Psychology, James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, James Vander Zanden, Fifth Edition, 1994, McGraw-Hill, Inc.

Sociology, Concepts and Uses , Jonathan H. Tuner, 1994. McGraw-Hill Inc.
Social Psychology, Kay Deaux, Lawrence S. Wrightsman, Fifth Edition, 1988,