Kamis, 13 Agustus 2009

DATA DAN ALAT PENGAMBILAN DATA



Data dan
Alat Pengambilan Data


Hasan Mustafa
Data Penelitian

Sebelum kita membahas cara pencarian data, sebaiknya kita bahas hal yang berkaitan dengan data itu sendiri karena dengan memahami apa itu data maka kita dapat menentukan secara tepat cara pengumpulan data . Data refers to a collection of organised information, usually the result of experience, observation or experiment, other information within a computer system, or a set of premises. This may consist of numbers, words, or images, particularly as measurements or observations of a set of variables. en.wikipedia.org/wiki/Data.
Data penelitian adalah informasi yang merupakan wujud nyata suatu variabel penelitian. Jika variabel penelitiannya adalah jenis kelamin, maka datanya adalah jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Jika variabel penelitiannya adalah usia, maka datanya berupa angka-angka yang menunjukkan lamanya seseorang hidup di dunia dari sejak dia dilahirkan sampai dengan saat di mana informasi tentang usia diperlukan oleh peneliti. Jika variabelnya adalah volume penjualan maka datanya berupa angka yang menunjukan jumlah barang yang telah terjual. Jika variabelnya adalah sikap karyawan, maka datanya berupa ungkapan rasa suka atau tidak suka karyawan terhadap suatu obyek tertentu.

Jenis data
a. Data kuantitatif dan kualitatif
Dari bentuknya, data asli suatu variabel penelitian dapat dibagi menjadi dua yaitu data yang berbentuk angka dan yang bukan angka. Beberapa penulis lain menggunakan istilah data kuantitatif dan data kualitatif. Usia, penghasilan, lama kerja, volume penjualan, tingkat laba, merupakan variabel-variabel yang datanya berupa angka. Sikap, persepsi, motivasi, jenis kelamin, opini, merupakan variabel-variabel yang datanya tidak berbentuk angka.
Uraian di atas menjelaskan bentuk data yang sesungguhnya suatu variabel penelitian. Misalnya data asli variabel usia yang berbentuk angka, bisa diubah menjadi data yang tidak berbentuk angka yaitu, “remaja”, “muda”, “tua”, “lansia”. Variabel penghasilan yang bentuk data aslinya berupa angka diubah menjadi kata-kata “miskin”, “kaya”. Volume penjualan diubah menjadi jumlah penjualan “sedikit”, “cukup”, “banyak sekali”, dan lain sebagainya. Artinya data kuantitatif dikualitatifkan. Demikian pula, data asli variabel sikap yang bentuknya bukan angka bisa diubah menjadi angka. Yang sikapnya negatif diberi angka -1, yang sangat positif diberi angka +5. Variabel jenis kelamin, perempuan diubah menjadi angka 1, dan yang laki-laki menjadi angka 2. Dalam hal ini dapat dikatakan data kualitatif dikuantitatifkan.

b. Data primer dan sekunder
Dari sumbernya, data bisa diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu data primer dan sekunder. Dinamakan primer karena peneliti memperoleh data dari tangan pertama, yang maksudnya adalah data yang diperoleh peneliti bukan data yang sebelumnya telah digunakan oleh pihak lain guna kepentingan tertentu. Misalkan peneliti ingin mengetahui sikap konsumen terhadap suatu produk “X”. Ternyata data tersebut tidak ada di perusahaan yang memproduksi “X” tadi. Kemudian peneliti mencarinya sendiri dengan cara menanyakan langsung kepada konsumen produk “X” melalui wawancara atau kuesioner. Informasi yang diperoleh peneliti tadi adalah data primer.
Data sekunder, sesuai dengan namanya, merupakan data yang diperoleh peneliti dari pihak lain yang telah mempunyai data yang diinginkan peneliti. Secara bahasa sehari-hari, data sekunder merupakan data “bekas orang lain” Contohnya, data yang telah dihasilkan oleh Biro Pusat Statistik merupakan data sekunder bagi peneliti yang datangnya dari pihak luar. Data tentang laporan keuangan suatu perusahaan merupakan data sekunder bagi mahasiswa yang akan menyusun skripsi/tesis/disertasi.
Seorang peneliti memerlukan data primer ketika dia tidak berhasil menemukan data sekunder, ketika dia ragu atas kebenaran data sekunder yang ada, atau ketika dia berpikir bahwa data sekunder yang ada sudah tidak valid lagi bagi penelitiannya. Dengan demikian sebaliknya, peneliti akan memerlukan data sekunder ketika datanya ada, bisa dipercaya, dan masih valid bagi penelitiannya.

c. Fakta dan opini
Data bisa berupa fakta, a fact is a statement that can be proven true.
-The Empire State Building is 1,250 feet tall. -Michael Jordon was born on February 17, 1963
atau bisa berupa opini, an opinion expresses someone's belief, feeling, view, idea, or judgment about something or someone.
-The puppy is cute. -Mercedes makes the best car in the world.
Dengan demikian data volume penjualan adalah fakta, sedangkan data kepuasan konsumen adalah opini. Data rugi atau laba adalah fakta, sedangkan data sikap pegawai adalah opini.

Hubungan jenis data dengan alat pengambil data.
Data yang bentuknya kuantitatif atau angka merupakan data yang objektif. Oleh karena itu seharusnya dicari dengan cara yang tepat . Mengapa? Seperti kita ketahui bersama, data berbentuk angka bersifat obyektif. Artinya siapapun yang menyatakannya, tidak boleh berdasarkan pendapat pribadi melainkan berdasarkan fakta. Misalnya, jika data tentang jumlah barang yang dijual, usia, penghasilan, produktivitas, tingkat laba, dlsb. dicari dengan cara wawancara atau kuesioner, bisa terjadi data yang dikemukakan oleh pihak yang diwawancarai (responden) tidak didasarkan fakta yang sesungguhnya melainkan merupakan pendapat pribadinya, artinya subyektif. Artinya data yang seharusnya bersifat obyektif, menjadi data yang sifatnya subyektif.
Hal tersebut terjadi bisa karena responden tidak mau mengatakan data yang sesungguhnya, atau dia lupa. Jika seorang pengusaha ditanya tentang jumlah keuntungan yang dicapainya, maka demi keuntungan bisnisnya dia bisa tidak mengatakan data yang sebenarnya. Dapat dibayangkan jika seandainya hal tersebut terjadi, peneliti akan memperoleh data yang salah, sehingga mengganggu hasil penelitiannya. Tidak sedikit suatu hipotesis yang diturunkan dari kerangka teoritis tertentu yang sudah diakui kebenarannya oleh banyak pihak, ditolak gara-gara datanya tidak benar.
Berdasarkan pengalaman membimbing hasil penelitian (skripsi, tesis, disertasi), tidak jarang penulis menemukan peneliti yang heran atas hasil pelitiannya sendiri. Di latar belakang penelitian dan identifikasi masalahnya, peneliti dengan sangat meyakinkan menyatakan adanya suatu masalah (sesuatu yang bersifat negatif, misalnya adanya korupsi, atau ketidakberesan lainnya yang juga dijelaskannya dengan menampilkan data berupa angka) di organisasi yang ditelitinya. Namun hasil akhir dari penelitian tersebut, yang biasanya diuraikan di bagian kesimpulan, ternyata dinyatakan bahwa organisasi tadi bersih-bersih saja, tidak ada masalah. Setelah dilakukan diskusi, ternyata peneliti memperoleh data yang tidak benar, karena teknik pengambilan datanya tidak tepat.
Kejadian yang sebaliknya bisa juga terjadi di mana data kualitatif diambil dengan teknik pengambilan data kuantitatif. Kalau kita menginginkan data tentang motivasi kerja pegawai (kualitatif), lalu kita mencari jumlah (angka) gaji/upah yang dia terima, kesimpulannya bisa salah. Karena motivasi tidak identik dengan jumlah gaji/upah pegawai yang bersangkutan. Untuk menghindari ketidakbenaran data yang kita peroleh maka peneliti wajib mencari data dengan alat yang sesuai dengan bentuk data.

Teknik pengumpulan data
a. Fakta
Data yang termasuk dalam kategori fakta, bukan opini/sikap, teknik pengumpulan datanya adalah studi dokumentasi dan observasi, dengan catatan data yang kita inginkan memang telah tersedia sebelumnya (data sekunder). Misalkan kalau yang kita inginkan adalah tingkat laba, maka dapat kita ketahui dengan mempelajari neraca rugi laba. Jika yang diinginkan adalah jumlah gaji, kita bisa minta daftar gaji. Jika yang diinginkan tingkat produktivitas maka kita harus mempunyai laporan tertulis tentang out-put dan in-put, kemudian kita hitung sendiri tingkat produktivitas, kecuali jika data tentang tingkat produktivitas telah tersedia.
Kalau ternyata datanya belum tersedia, mau tidak mau, peneliti harus menyusunnya sendiri (data primer). Itulah resiko atau biaya yang harus dibayar guna memperoleh data yang benar. Misalnya, peneliti menginginkan data tingkat laba dari pedagang kaki lima tetapi pedagang yang bersangkutan tidak memiliki neraca rugi laba, maka peneliti harus menghitungnya sendiri walaupun jika terpaksa minta bantuan orang lain yang mampu menghitungnya. Atau ketika peneliti ingin mengetahui luas ruangan, tingkat pencahayaan, tingkat kebisingan, dlsb. Jenis fakta lain yang tidak bebentuk angka misalnya fasilitas fisik suatu organisasi, jalannya proses produksi, peraturan-peraturan yang berlaku, bagan organisasi, dan lain lainnya yang sejenis.
Tidak sedikit peneliti yang tidak mau bersusah payah memperoleh dokumen, atau bahkan harus mengitung sendiri, kemudian cukup mengajukan pertanyaan (wawancara) kepada responden. Cara ini bukan tidak boleh dilakukan, melainkan resiko terjadinya ketidak-akuratan data menjadi lebih besar dan akibatnya mengganggu kualitas penelitiannya. Kalau wawancara merupakan cara satu-satunya yang mungkin dilakukan, lakukan wawancara dengan berbagai sumber atas pertanyaan atau isu yang sama.

b. Opini
Bentuk opini atau pendapat bisa bermacam-macam. Dapat berupa sikap, persepsi, pandangan, saran, dan lain sebagainya. Ciri yang paling menonjol dari data ini adalah tingkat subyektivitasnya yang tinggi. Teknik pengambilan data semacam ini paling tepat dilakukan dengan wawancara dan atau kuesioner (terbuka atau tertutup).
Mengajukan pertanyaan dalam bentuk lisan atau tulisan dengan tujuan untuk memperoleh data yang mampu mewakili (representatif) variabel penelitian harus benar-benar dikelola dengan baik, sehingga pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang valid dan reliabel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar