Kamis, 27 Agustus 2009

EFEK PYGMALION DI TEMPAT KERJA




EFEK PYGMALION DI TEMPAT KERJA


Hasan Mustafa


Efek atau pengaruh Pygmalion merupakan bahasan yang bisa diaplikasikan di sembarang kehidupan. Untuk kehidupan diri kita sendiri, kehidupan di keluarga, kehidupan di sekolah, atau juga kehidupan di tempat kerja. Inti bahasan ini adalah mengacu pada fenomena bahwa semakin tinggi kita meletakan harapan pada seseorang (anak, siswa, mahasiswa, pegawai) semakin baik kinerjanya. Misalnya, ketika seorang manajer mengatakan berulang-ulang kepada seorang bawahanya bahwa dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik sekali, maka kinerja bawahannya tersebut akan lebih baik. Atau ketika seorang ayah meyakinkan anaknya yang berusia 6 tahun bahwa dia pasti bisa pergi ke Surabaya dari Jakarta naik pesawat sendirian, maka hasilnya sang anak akan bisa melakukannya.


Oh ya, Pygmalion adalah seorang pemahat dan pengukir patung dalam ceritera yang ditulis oleh Ovid di mitologi Yunani. Suatu ketika, dalam ceritera tersebut, Pygmalion berhasil membuat patung wanita. Patung wanita tersebut sangat cantik dan karena begitu cantiknya, Pygmalion jatuh cinta kepada patungnya tersebut. Dia namakan patungnya Galatea. Sangking cintanya kepada Galatea, Pygmalion memohon kepada dewa Aphrodite untuk memberikan nafas ke dalam patungnya tersebut. Karena begitu besar keinginan atau harapan Pygmalion, akhirnya dewa Aphrodite mengabulkan harapannya. Galatea bernafas, menjadi manusia. Kemudian Pygmalion mengawininya dan mereka hidup dengan bahagia.


Efek Pygmalion dalam sosiologi dikategorikan sebagai satu bentuk dari self-fulfilling prophecy. Robert K. Merton mengembangkan konsep self-fulfilling prophecy dari prinsip yang dikemukakan oleh W.I. Thomas (1928) yang berbunyi, "If men define situations as real, they are real in their consequences." (dikenal dengan nama Thomas theorem) – Menurut Thomas, manusia mereaksi suatu situasi tidak sekedar hanya seperti situasi itu sendiri, melainkan seringkali merupakan persepsi dirinya terhadap situasi tersebut. Oleh karena itu, perilakunya ditetapkan sebagiannya oleh persepsi dan pemberian makna atas situasi, bukan situasi itu sendiri. Begitu, orang meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu situasi atas benar-benar mempunyai makna tertentu, terlepas apakah makna tersebut benar-benar ada dalam situasi tersebut, maka orang tersebut akan bertindak sesuai dengan keyakinannya.


Untuk menguji apakah efek Pygmalion tersebut memang bisa terjadi dalam realitas sosial, dua orang peneliti yaitu Rosenthal dan Jacobson melakukan penelitian dengan rancangan eksperimen. Penelitiannya tentang efek (pengaruh) harapan guru terhadap kinerja murid dilakukan selama enam, bulan. Di awal tahun, kepada murid-murid baru yang dijadikan sampel percobaannya ditanamkan keyakinan oleh guru mereka bahwa mereka akan mempunyai prestasi akademik yang istimewa. Sampel diambil secara acak dari 18 kelas. Di akhir tahun, prestasi studi murid eksperimen tersebut dibandingkan dengan murid-murid lain yang tidak dijadikan kelompok eksperimen. Hasilnya, terdapat perbedaan yang signifikan. Kelompok murid eksperimen lebih baik dari yang bukan. (Rosenthal, Jacobson, 1966).


Ada artikel yang cukup menarik yang ditulis oleh Susan M. Heathfield dalam About.com. Human Resources, judulnya adalah: “THE TWO MOST IMPORTANT MANAGEMENT SECRETS: THE PYGMALION AND GALATEA EFFECTS” – The Pygmalion Effect: The Power of Supervisor’s Expectations dan The Galatea Effect: The Power of Self-expectations.


Harapan Anda terhadap bawahan dan harapan mereka terhadap dirinya sendiri merupakan faktor kunci untuk membuat bawahan berkinerja baik. Efek Pygmalion dan Galatea tidak bisa disepelekan. Dua hal tersebut merupakan prinsip dasar yang bisa Anda terapkan guna perbaikan kinerja di tempat kerja.

Untuk efek Pygmalion disimpulkan sebagai berikut:

-Setiap penyelia (atasan/supervisor) mempunyai harapan atas kinerja bawahannya.

-Secara disadari atau tidak penyelia mengkomunikasikan harapan-harapan tersebut kepada bawahan nya

-Bawahan secara sadar atau tidak, menangkap pesan yang disampaikan penyekianya tersebut.

-Bawahan berkinerja dengan cara yang konsisten dengan harapan yang berhasil ditangkap dari penyelianya.


Selanjutnya Susan mengutip tulisan dari J. Sterling Livingston dalam Harvard Business Review 1988 – Pygmalion in Management. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana kinerja yang menjadi lebih baik jika para penyelia mengkomunikasikan pikiran positif terhadap anak buahnya? Jika penyelia benar-benar percaya bahwa setiap anak buahnya mempunyai kemampuan untuk memberikan kontribusi positif di tempat kerjanya, disadari atau tidak, akan berpengaruh positif terhadap kinerja pegawainya. Dan, pengaruh penyelia bahkan bisa lebih baik daripada itu. Ketika penyelia memiliki harapan yang positif terhadap anak buahnya, dia membantu mereka memperbaiki “self-concept” – konsep diri, dan sekaligus juga “self-esteem” – harga diri.


Sumber bacaan :


http://humanresource,about.com/


http://ezinearti.com/


http://en.wikipedia.org/






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar