Jumat, 13 November 2009

HUBUNGAN SIKAP DENGAN MOTIVASI

SIKAP DAN MOTIVASI


Hasan Mustafa

Sikap dan motivasi merupakan dua konsep yang berbeda namun memiliki kaitan yang sangat erat. Dalam berbagai buku dan artikel yang membahas tentang sikap, sebagian besar akan memberikan pengertian sebagai perasaan suka, tidak suka, atau juga tidak memihak terhadap obyek atau subyek tertentu. Predisposition or a tendency to respond positively or negatively towards a certain idea, object, person, or situation. Attitude influences an individual's choice of action, ( http://www.businessdictionary. com/definition/attitude.html) , An attitude is a hypothetical construct that represents an individual's degree of like or dislike for an item. Attitudes are generally positive or negative views of a person, place, thing, or event-- this is often referred to as the attitude object. http://en.wikipedia.org /wiki/ Attitude _(psychology). Oleh karena itu kita sering mendengar sikap yang negatif, sikap positif atau juga sikap yang netral . Walau pun secara teoritis komponen sikap adalah kognisi, afeksi, dan konasi - (1) Affective: emotions or feelings. (2) Cognitive: belief or opinions held consciously. (3) Conative: inclination for action.- namun pada akhirnya afeksi atau perasaan lah yang yang paling menonjol.

Banyak hasil penelitian yang kemudian ditulis ulang dalam bentuk teori yang menyatakan bahwa sikap adalah predisposisi perilaku- seperti yang diutarakan sebelumnya. Artinya melalui sikap kita bisa memprediksi perilaku. Seseorang yang bersikap negatif terhadap suatu tugas tertentu mempunyai kecenderungan untuk tidak mau mengerjakan tugas tersebut. Demikian pula sebaliknya ketika seseorang mempunyai sikap positif.

Motivasi banyak diartikan sebagai dorongan atau gerakan yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu hal. Motivation is the internal condition that activates behavior and gives it direction; and energizes and directs goal-oriented behavior.en.wikipedia.org/wiki/Motivation Jika dorongannya kuat, kita artikan bahwa seseorang tadi mempunyai motivasi yang tinggi, kuat, besar. Namun ketika dorongannya lemah maka kita bisa mengatakan motivasi seseorang tadi untuk melakukan sesuatu rendah. Dalam banyak hal, tidak jarang motivasi diterjemahkan dengan kata “kemauan“ . Willingness of action esp. in behavior; Kinerja seseorang akan baik jika kemampuan (ability) dan kemauan (motivation) orang tersebut memadai.

Hubungan sikap dengan motivasi
Ketika kita memaknai sikap sebagai kecenderungan berperilaku dan motivasi adalah dorongan (kemauan – willingness) untuk berperilaku, tampak jelas bahwa kedua konsep tersebut berhubungan sangat erat dengan perilaku (behavior). Seorang laki-laki yang mempunyai sikap negatif terhadap seorang perempuan tertentu cenderung tidak mempunyai kemauan (motivasi) untuk dekat apalagi mencintai perempuan tersebut. Jadi sikap seseorang yang negatif atau positif terhadap sesuatu (obyek/subyek) dapat diinterpretasikan secara kuat bahwa seseorang tersebut mau (termotivasi) atau tidak mau (tidak termotivasi) melakukan sesuatu terhadap obyek atau subyek tertentu tadi.

Kepuasan kerja dan motivasi kerja.
Sikap dan motivasi merupakan konsep yang sangat luas, bisa diaplikasikan di sembarang tempat, dengan istilah yang berbeda-beda. Satu tempat yang umum yang banyak membicarakan motivasi adalah di tempat kerja. Di tempat kerja, motivasi kerja merupakan sesuatu yang berperan penting dalam keberhasilan organisasi kerja. Dalam berbagai macam tulisan atau artikel dikemukakan bahwa hal-hal umum yang mampu memunculkan motivasi kerja adalah, pekerjaan atau tugas-tugas itu sendiri, gaji/upah/insentif, atasan, rekan kerja, kondisi kerja, system promosi - Salary, benefits, working conditions, supervision, policy, safety, security, affiliation, and relationships are all externally motivated needs. (Wendy Pan, 2009) .

Mengapa hal-hal terebut merupakan sesuatu yang bisa membuat pegawai termotivasi untuk bekerja, jawabnya sederhana, karena hal-hal tersebut lah yang memang sejatinya dibutuhkan (needs) oleh pegawai. Konsep ”needs” merupakan salah satu cara yang banyak dipelajari guna memahami motivasi. (Wexley, 1977) Pegawai yang gaji atau upahnya bisa memenuhi kebutuhannya, cenderung mempunyai motivasi kerja lebih tinggi dibanding yang tidak atau kurang terpenuhi. Begitu pula dengan pegawai yang ditempatkan pada pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhannya.

Wendy Pan, dalam tulisannya tentang motivasi kerja menjelaskan bahwa :” An employer or leader that meets the need on the Howletts Hierarchy” will see motivated employees and see productivity increase” Yang dimaksud dengan Howletts Hierarchy adalah jenjang kebutuhan mulai dari intrisik sampai dengan ekstrinsik - achievement, advancement, recognition, growth, responsibility, and job nature are internal motivators. - Salary, benefits, working conditions, supervision, policy, safety, security, affiliation, and relationships are all externally motivated needs.

Konsep yang mampu menggambarkan terpenuhinya kebutuhan pegawai atas berbagai kebutuhan di atas dikenal dengan nama “kepuasan kerja”. Kepuasan kerja adalah sikap (rasa suka atau tidak suka) pegawai terhadap dimensi pekerjaan. Dimensi-dimensi pekerjaan yang secara umum telah diterima oleh berbagai pakar disiplin Perilaku Organisasi atau Manajemen Sumberdaya Manusia adalah : (1) Pekerjaan itu sendiri (work it self), gaji atau upah (pay), pengawasan dari atasan (supervision), rekan kerja (co-workers), sistem promosi (promotion) dan lingkungan kerja (working conditions). Jika pegawai merasa tidak puas terhadap dimensi-dimensi pekerjaan tesebut, bisa dimaknakan bahwa kebutuhan dalam bekerja tidak terpenuhi. Ketika kebutuhan kerja tidak terpenuhi maka motivasi kerja pun rendah, demikian pula sebaliknya.

Untuk memperkuat pendapat tadi, pernyataan berikut ini dapat dijadikan acuan. Job satisfaction represents several related attitudes which are most important characteristics of a job about which people have effective response. These to Luthans (1998) are: the work itself, pay, promotion opportunities, supervision and coworkers. Satu pendapat lagi yang mendukung hubungan antara kepuasan kerja dengan motivasi: “An employee’s motivation to work is continually related to job satisfaction of a subordinate. Motivation can be seen as an inner force that drives individuals to attain personal and organization goals” (Hoskinson, Porter, & Wrench, p.133).

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada kaitan langsung antara sikap terhadap pekerjaan (kepuasan kerja) dengan motivasi kerja. Motivasi kerja pegawai tinggi ketika mereka merasa puas bekerja. Luthans (1998) asserts that motivation is the process that arouses, energizes, directs, and sustains behaviour and performance. That is, it is the process of stimulating people to action and to achieve a desired task. One way of stimulating people is to employ effective motivation, which makes workers more satisfied with and committed to their jobs.. Artinya agar pegawai senantiasa termotivasi untuk bekerja maka mereka harus memiliki kepuasan kerja yang tinggi. Dengan demikian ketika seseorang ingin mengetahui tingkat motivasi kerja, maka salah satu cara adalah dengan mengukur tingkat kepuasan kerja.


Bandung, November 2009










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar